“Bro, aku sudah nonjob sekarang,” terdengar suara lirih seorang kawan baik saya. Dia telepon saya sehari setelah dicopot.
“Sabarlah, ingat saja dulu sebelum berjabatan kamu bisa hidup, kok. Jangan pikirkan terlalu jauh, kerja baik-baik saja, insya Allah dapatnya lagi. Kamu cukup berprestasi,” hibur saya panjang lebar.
“Tapi, aku terpukul sekali. Yang gantiin aku bawahanku yang kusayangi dan kupercayai, dia banyak kuajarkan, begini pembalasan dia,” suaranya memelas hingga meninggi.
“Sudahlah, enggak usah dipikirkan lagi yang berlalu. Ini situasi abnormal, kau juga dulu mendapat jabatan itu bukan karena profesional. Karena beking-nya kau dulu, terima saja ketika kekuatan beking-mu lemah dan ditimpa yang lain,” kata saya yang mulai kesal padanya.
Sahabat!
Sesuatu pasti ada akhirnya. Dan ketika engkau mendapat sesuatu tidak dengan jalan lurus, maka pengkhianatan, tikung menikung adalah hal lumrah.
Di situasi abnornal Anda gagal mendapat atau gagal bertahan. Itu artinya Anda telah gagal menjadi nakhoda di situasi badai. Untuk menjadi eksis di situasi abnormal butuh ekstra energi. Ketika Anda merebut dari orang lain dengan cara-cara salah, maka sangat mungkin Anda juga dijatuhkan dengan cara yang sama.
Kebanyakan kita menjadi nyaman setelah berada di posisi impian. Padahal, saat rasa nyaman itu mulai menghinggapi, kita kehilangan kewaspadaan. Saat usaha sedang maju-majunya kita lupa sisi-sisi lemah manajemen kita.
Pikirkan dan perjuangkan impian. Orang-orang yang selalu menjadikan kata orang lain sebagai arah hidupnya adalah mereka yang menjemput kegagalannya.[]



