BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh menjamu komunitas mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh Sumatra (IMPAS) di ruang rapat DPA Partai Aceh, di Banda Aceh, Senin, 26 Desember 2016.
IMPAS merupakan salah satu komunitas mahasiswa yang tergabung dari mahasiswa-mahasiswa yang ada di Banda Aceh dari beberapa fakultas dan universitas.
Koordinator IMPAS Fadhlan mengatakan, kunjungan dan silaturrahmi ini untuk mengetahui berbagai perkembangan kekinian tentang Aceh.
“Apalagi usia perdamaian Aceh sudah memasuki usia dua belas tahun,” ujar ujar Fadhlan.
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini juga mengatakan, mahasiswa sekarang harus banyak mengetahui tentang Aceh baik sejarah di masa silam, perkembangan sekarang dan bahkan untuk pembangunan Aceh ke depan.
“Apalagi Partai Aceh mendominasi posisi kepala pemerintahan dan parlemen baik tingkat provinsi maupun kabupaten kota,” kata Fadhlan.
Kunjungan IMPAS ini diterima langsung oleh Wakil Ketua KPA/PA Pusat Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak dan didampingi Juru Bicara DPA PA Suadi Sulaiman alias Adi Laweung, Tgk. Muhammad Sulaiman, Isda Ilyas dan Lukman Hakim.
Dalam sambutannya Abu Razak menyampaikan, perkembangan Aceh pasca perdamaian sudah mulai membaik dari sebelumnya.
“Artinya atas berkah perdamaian yang kita capai pada tahun 2005 di Helsinki, kondisi Aceh berangsur aman dan damai. Kendatipun kondisi Aceh berangsur aman, namun substansi mandat perdamaian belum seluruhnya diselesaikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, masih ada hak Aceh yang belum diberikan ke Aceh,” urai Abu Razak.
Hal ini katanya menjadi tugas semua rakyat Aceh untuk terus berjuang untuk Aceh ke depan, termasuk para mahasiswa. Mantan Panglima GAM Wilayah Pidie ini mengajak semua pihak khususnya mahasiswa sebagai agent of change untuk mengambil alih untuk membangun Aceh.
“Partai Aceh tetap terus berjuang untuk Aceh tercinta ini, adik-adik mahasiswa silahkan juga mengabdikan diri untuk Aceh ini, apalagi Partai Aceh ini sangat terbuka untuk semua elemen masyarakat Aceh, tidak ada kecualianya,” kata Abu Razak.[]




