27 C
Banda Aceh
Rabu, Oktober 27, 2021

Aceh Butuh Kurikulum Berbasis Pengetahuan Lokal

Dr. Nia Deliana
Sejarawan Independen Aceh

Sejak abad ke-19 ketika segala aspek hidup manusia diukur dengan kacamata ilmiah, Peradaban dalam definisi, konsep, dan teori, hingga kini belum sampai pada satu kesimpulan universal. Meskipun begitu, paradigma peradaban, dalam benak kita biasanya terbagi dalam dua macam, yaitu bersifat materi dan non-materi.

Sebagaimana akar ukuran ilmiah yang mengedepankan bukti dan fakta bersifat materi, penemuan-penemuan arkeologi dan peninggalan intelektual kebanyakannya ditempatkan pada kelas peradaban paling tinggi. Semakin banyak dan luas peninggalan yang ditemukan, semakin tinggi pula stereotype ‘leubeh hayeue/leubeh beradab’ yang kemudian secara alamiah menuntun pada diseminasi pengaruh politik, ekonomi, dan budaya terhadap bangsa lain yang penemuan dan kelestarian peradabannya tidak sebanding, misalnya.

Ketika kita membaca buku-buku kaliber internasional soal peradaban, narasi yang sering dipakai untuk menggambarkan akar peradaban adalah dari zaman renaissance, abad ke 18 berlanjut ke abad imperialism, yaitu abad ke 19 dan abad berbangsa dan bernegara dari tahun 1900-2000. Kita diajarkan bahwa isi dari kata peradaban yang kita pakai sekarang itu mengakar pada kata civilité dan policé, bahasa Prancis. Inggris mengopi kata ini menjadi civilization. Belanda memakai kata dengan makna yang sama ‘beschaving’.

Kelanjutan dari perbincangan di Eropa kemudian adalah soal banding membandingkan masyarakat mana primitif dan masyarakat mana modern yang diukur dengan peninggalan-peninggalan sejarah tadi. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kita mendapati literatur yang mengatakan bahwa Afrika adalah bangsa yang tidak punya sejarah, masyarakat Asia Tenggara primitive, dan sejenisnya, yang kemudian dimanfaatkan oleh zionis Kristen penjajah untuk mengeruk keuntungan politik dan ekonomi dari sumber daya alam dan manusia di kawasan ini.

Begitu juga Ketika kita bicara peradaban Aceh, tentu masih banyak pertanyaan yang muncul. Ada yang menganggap Aceh tak punya peradaban, Ini biasanya diucapkan oleh mereka yang memakai standard ciri konstruksi peradaban zaman renaissance abad ke-18 dan imperialisme abad ke 19 dan 20 tadi. Ada juga yang menjawab dengan khas Khaldunian bahwa ciri peradaban Aceh dulunya adalah Islam, Assabiyah, zawiyah, dan produktifitas Sultan dan ulama. Jawaban ini benar tetapi ada banyak kedalaman lain yang belum coba dikonstruksi dan didiseminasi secara institusional.

Aspek mendesak tersebut termasuk di antaranya berkenaan dengan yang pertama, Konsep Islamisme Aceh yang terpateri dalam manuskrip-manuskrip intelektual, hukum, politik, ekonomi, kemasyarakatan, dan seni budaya. Yang kedua, fluiditas Pesisiran, yang melanggengkan sifat keberagaman dan inklusifitas berbagai golongan umat manusia terlepas dari agama dan suku yang berbeda. Yang ketiga, Sifat Ramah Alam (gerak ekonomi dan politik tidak berlawanan dengan ekologi alam dan Lingkungan hidup).

Ketiga faktor ini alpa dari sejarah-sejarah dunia lainnya, di Eropakah atau di Timur Tengah. Ketiga faktor ini juga yang menjelaskan mengapa manuskrip-manuskrip Jawi yang kita temui sama sekali tidak mencoba menekankan hirarki kelas dan keistimewaan suku tertentu dari suku lainnya.

Ketiga ciri peradaban Aceh di atas tersebut semakin memudar dari cermin-cermin kekinian di Aceh. Dalam menanggapi kelemahan ini, pengembangan kurikulum berdasarkan peradaban Aceh abad ke-16-19 adalah hal yang tepat. Saya mensketsakan kerangka kurikulum tersebut perlu melingkupi beberapa poin seperti konsep dan teori peradaban dalam kesultanan Aceh Darussalam, peran saudagar, ulama, sufi, reformis, haji dalam penyebaran Islam di Aceh, pengaruh Islam dalam kehidupan sosio-politik, ekonomi, dan bahasa masyarakat kesultanan Aceh Darussalam, Islam pada masa modern: pemikir, trend gerakan dan kepemimpinan di Aceh, akar dan perkembangan hak azasi manusia dalam kesultanan Aceh Darussalam, azas norma lingkungan dalam masyarakat kesultanan Aceh Darussalam.

Untuk memulai poin kurikulum di atas, batu tanjakan yang sudah siap adalah tindak lanjut konstruksi sejarah berdasarkan penemuan ilmuwan-ilmuwan lokal terdahulu seperti Muhammad Said, Ali Hasjmy, Osman Raliby, Zainuddin, dan lain-lain. Hingga saat ini, kajian mereka mentok hanya sampai pada apa yang mereka temukan, padahal sejarah itu lenturnya selentur zaman yang bisa dikonstruksi beradasarkan kebutuhan perkembangan sosial, politik dan ekonomi.

Persoalan lain yang perlu disadari adalah seputar hakikat bahwa buku buku sejarah yang sampai pada kita sekarang sudah dalam bentuk jahitan. Kita tidak punya akses langsung ke sumber-sumber sejarah primer seperti surat-surat, manuskrip, dan rekaman-rekaman lainnya yang bisa kita pijaki bersama untuk menghasilkan konstruksi narasi orisinil dari berbagai sudut pandang. Ini dikarenakan kebanyakan sumber-sumber sejarah Aceh abad ke-16-19 ada di luar negeri dan dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Arab, Portugis, Prancis, Inggris, Denmark, Tamil, bahkan Tausug. Ini juga yang menjadi kelemahan mengapa universitas kita di Aceh tidak punya nilai bargin dalam kancah pendidikan dunia internasional.

Tak lebih baik juga, adalah realita bahwa manuskrip dalam koleksi personal di Aceh begitu banyak dan hampir ditemui di berbagai daerah. Namun universitas-universitas dengan departemen terkait masih belum penuh bergerak menjadikan manuskrip itu bisa diakses khalayak ramai dengan murid-murid pasca sarjananya yang dijatahi langsung kajian berdasarkan manuskrip dalam koleksi personal tersebut. Nah, yang saya sampaikan ini sebenarnya yang sedang dilakukan oleh kampus internasional SOAS di Inggris. Mereka baru-baru ini bahkan membuka Beasiswa PhD yang akan diberikan pada kandidat yang lahan kajiannya adalah manuskrip lokal Asia Tenggara yang ditemui di pustaka mainstream Inggris dan Eropa atau yang berasal hanya dari kawasan-kawasan Asia Tenggara.

Jadi untuk bisa menanggapi kelemahan-kelemahan tersebut saya kira penting jika dimulai dari pengembangan kurikulum di Universitas di Aceh. Tidak hanya itu saja, Fakultas Tamadun dan Sejarah Islam Indonesia pun penting untuk didirikan secara terpisah demi menanggapi celah-celah yang lebih besar dalam dunia pendidikan penyerapan nilai lokal kita.

Jadi yang sedang dicoba lakukan dengan upaya pengembangan kurikulum ini adalah upaya memproduksi pengetahuan dari sudut pandang lokal. Produksi pengetahun sedang banyak digandrungi dan dibicarakan oleh kampus-kampus ternama di dunia saat ini. Meskipun begitu di Asia Tenggara hanya Indonesia, jika menimbang provinsi selain di Jawa, yang tidak begitu bersigap dengan langkah produksi ilmu berbasis lokal.[]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Terbaru

Warga Buat Laporan Terbuka Soal Tanggul Krueng Pase, Begini Respons Kementerian PUPR

LHOKSUKON - Marzuki, warga Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, membuat laporan terbuka kepada Kementerian...

Wali Nanggroe Aceh Kukuhkan Anggota Majelis Tuha Peut, Ini Nama-Namanya

BANDA ACEH – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

PLN Aceh Pasang Meteran Listrik di Rumah Al-Walid MZ, ‘Meugreb Laju Hu’

LHOKSEUMAWE – Muhammad Al-Walid MZ (13), anak berprestasi di Gampong Meunasah Buket, Buloh Blang...

Majelis Hakim Tunjuk Mediator Perkara Rekanan Gugat Dinas PUPR Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE – Pengadilan Negeri Lhokseumawe menggelar sidang perkara gugatan Wakil Direktur III CV Muhillis...

Doa Agar Rezeki Mengalir Lancar

Tugas seorang Muslim adalah menjemput rezeki yang halal dengan cara-cara yang baik dan sesuai...

Ini Sosok Otoniel, Gembong Narkoba Ditangkap dalam Operasi Libatkan 500 Tentara dan 22 Helikopter

KOLOMBIA - Kolombia akhirnya berhasil menangkap gembong narkoba paling dicari, Dairo Antonio 'Otoniel' Usuga....

Pertamina Bersama Masyarakat Bersihkan Pantai dan Tanam Pohon di Aceh Utara

LHOKSEUMAWE - Pertamina Subholding Upstream Regional Sumatera Zona 1 bersama masyarakat dan mahasiswa menggelar...

Harga Kopi Gayo Terus Bergerak Naik, Ini yang Harus Dilakukan Pencinta Kopi

  BLANGKEJEREN - Harga kopi gayo di Kabupaten Gayo Lues terus melonjak naik sejak sebulan...

Babinsa Latih Warga Budi Daya Maggot untuk Hasilkan Uang

LHOKSUKON – Serda Samsudin, Babinsa Koramil 29/Lkh Kodim 0103/Aceh Utara, melatih masyarakat di Desa...

113 Atlet Panjat Tebing Aceh Perebutkan Tiket PORA Pidie

BANDA ACEH - Sebanyak 113 atlet panjat tebing putra dan putri dari kabupaten/kota se-Aceh...

Peningkatan Wawasan Keilmuan bagi Ratusan Imam Masjid dan Khatib di Subulussalam

SUBULUSSALAM - Ratusan Imam Masjid dan khatib mengikuti program pembinaan peningkatan kapasitas wawasan keilmuan...

Ini Kata Sekda Aceh saat Sosialisasi Vaksinasi di Dayah MUQ Pagar Air

BANDA ACEH – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Taqwallah, mensosialisasikan pentingnya vaksinasi Covid-19 bagi semua...

Ini Harapan Politikus Kepada Agam Inong Aceh 2021

BANDA ACEH – Muhammad Akkral (Kota Banda Aceh) dan Salwa Nisrina Authar Nyakcut Daulat...

Cerita Then Soe Na Keturunan Tionghoa Memeluk Islam

Hidayah bisa datang melalui orang-orang terdekat. Then Soe Na mengakui, cahaya petunjuk Illahi diterimanya...

Ini Jadwal Terbaru Seleksi CPNS 2021, Pengumuman Hasil SKD hingga Ujian SKB

JAKARTA – Pelaksanaan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) CPNS dipastikan mundur dari yang dijadwal sebelumnya....

Masyarakat Lancok-Lancok Rayakan Maulid, Teungku Imum: Umat Terbaik Meneladani Kekasih Allah

BIREUEN - Masyarakat Lancok-Lancok, Kecamatan Kuala, Bireuen, mengadakan kenduri untuk merayakan Maulid Nabi Besar...

Membangun Personal Mastery

Oleh: Muhibuddin, SKM Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Kesehatan Masyarakat (MKM) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK)  Personal...

Dayah Perbatasan Aceh Singkil Diminta Kembalikan Kejayaan Syekh Abdurrauf

SIGKIL - Sebanyak 10 tenaga kontrak/non-PNS tambahan sebagai tenaga administrasi, tenaga teknis, dan penunjang...

Belajar Digital yang Mudah, Murah, dan Aman

LHOKSUKON - Rangkaian Webinar Literasi Digital di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh kembali bergulir....

BMK Bireuen Salurkan Zakat Rp1,9 Miliar kepada 3.047 Penerima, Ini Rinciannya

BIREUEN – Bupati Bireuen, Dr. H. Muzakkar A. Gani, S.H., M.Si., menyalurkan secara simbolis...
Butuh CCTV, dapatkan di ACEH CCTV. ALAMAT: Jln Tgk Batee Timoh lr Peutua II, Gampong (Desa) Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh. Kode Pos 23114. TLP/WA : 0822.7700.0202 (MUSRIADI FAHMI). Taqiyya Cake and Bakery, Tersedia: Brownies, Bolu pandan, Bolpis, Bolu minyak, Bolu Sungkish, Ade, Donat, Serikaya, Raudhatul Jannah (082269952496), Perum Gratama Residence No 5 Mibo Lhoong Raya Banda Aceh. Kunjungi Showroom Honda Arista. Jl. Mr. Teuku Moh. Hasan No.100, Lamcot, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23242. Hubungi: No Tlp/WA : 082236870608 (Amirul Ikhsan). Kunjungi Usaha Cahaya Meurasa/ Kue Kacang Alamat: Perumahan Cinta Kasih, Gampong (Desa) Neuheun, Kec. Masjid Raya, Aceh Besar. Tersedia Kue Malinda/Kacang dan Nastar. Hubungi TLP/WA: 085277438393 (Nurjannah) - Bimbel Metuah, Almt: Jl. Seroja No. 5, Ie Masen Kayee Adang, Ulee Kareng, Banda Aceh. HP/WA: 0823 6363 2969 (Ola). Instagram: @bimbelmetuah @metuah_privat