Hari masih pagi ketika keluarga kecil itu menuju perkebunan serai wangi. Bermacam peralatan yang telah disediakan digendong menggunakan kain panjang. Ada beras dan ikan asin, dan ada pula peralatan memotong serai, arit (Gayo: sedep).

Lelaki itu adalah Amut, 35 tahun, warga Kecamatan Blangpegayon, Kabupaten Gayo Lues, bersama istri dan sepasang anaknya. Memanen serai wangi adalah jalan terakhir yang dipilihnya ketika tidak ada pekerjaan lain.

“Hari ini baru mulai panen. Soalnya tidak ada pekerjaan lain lagi. Ya, terpaksa memanen serai wangi untuk kebutuhan dapur,” kata Amut saat bertemu Portalsatu di kediamannya, Desa Anak Reje, Sabtu 25 September 2021.

Amut bercerita, ada peraturan tak bersurat tentang memanen serai wangi di Gayo Lues. Seperti, ketika memanen serai wangi milik orang lain, ada yang hasilnya dibagi dua dan ada yang dibagi tiga. Hasil dibagi dua, yaitu pemilik kebun hanya menerima bersih hasil panen tanpa mengeluarkan modal. Di dalam kebun tidak ada kayu bakar, semua kebutuhan disediakan oleh pemanen selain alat penyuling.

Sedangkan untuk sistem hasil dibagi tiga, berlaku aturan berbeda. Yaitu: pemilik kebun menyediakan alat penyuling beserta kayu bakar, dan pemanen hanya memotong disertai melakukan proses panen. Jika seperti itu, maka hasil dari penjualan minyak serai wangi yaitu dua bagi untuk pemilik dan satu bagi untuk pemanen.

“Kabarnya, harga serai wangi masih tetap Rp 160 ribu sampai Rp 165 per kilogram. Harga seperti ini sama sekali membuat pilu hati petani. Karena prosesnya sangat lama. Seperti harus menyiapkan kayu bakar atau membeli kayu bakar dulu, menyiapkan alat penyuling. Kemudian, kami memotong daun serai wangi dengan membawa pekerja, mengangkutnya ke tempat penyulingan. Setelah terkumpul semua alat dan bahan ini, kami menyuling minyak serai wangi dengan menggunakan kayu bakar. Dalam satu hari hanya dapat kami hasilkan 6-8 kilogram minyak,” jelasnya.

Serai Wangi Gayo Lues-Anuar-Portalsatu
Petani menyuling minyak serai wangi di Gayo Lues. @portalsatu.com/Anuar Syahadat

Proses penyulingan minyak asitri (minyak nabati yang beroma khas dan mudah menguap seperti minyak serai wangi) di Aceh memang masih secara tradisonal.

Harga Tidak Cukup

Jika hasil penyulingan hanya 6 kilogram per hari dengan harga Rp 160 ribu per kilogram, maka uang yang dihasilkan penyuling serai wangi Rp 960 ribu. Uang itu akan dipilah untuk ongkos menebang kayu bakar dan mengangkutnya ke tempat penyulingan, dan ongkos memotong daun serai wangi.

Harga serai wangi di Kabupaten Gayo Lues pernah turun hingga diatas Rp 300 ribu per kilogram. Namun, semenjak pandemi covid-19 awal tahun 2020 lalu, harga minyak atsiri yang diekspor ke luar negeri itu terus turun. Harga itu masih di bawah Rp 200 ribu per kilogram hingga menjelang akhir tahun 2021 ini.

“Mudah-mudahan Pemerintah Gayo Lues bisa membuat terobosan baru, yaitu dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan. Hal itu dapat menaikan harga minyak serai wangi di atas 200 ribu per kilogram,” harapnya.

Sementara Amin, salah satu penampung minyak serai wangi dan juga pemilik kebun serai wangi di Kecamatan Kota Panjang mengatakan, harga minyak serai wangi hari ini Sabtu 25 September 2021 masih tetap bertahan Rp 160 ribu hingga Rp 165 ribu per kilogram. Harga itu sewaktu-waktu bisa berubah ketika toke di Medan menaikkannya.

“Sebenarnya, jika harga minyak serai wangi Gayo Lues mencapai Rp 300 per kilogram, saya yakin akan banyak warga yang sejahtra, karena proses panen minyak serai wangi empat bulan sekali, dan otomatis akan lebih banyak orang tua yang bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi,” katanya, melalui sambungan telepon WhatsApp.

Amin mejelaskan, kebun serai wangi di Kabupaaten Gayo Lues sangat luas, dan sekira 30 persen dari jumlah penduduknya memiliki kebun serai wangi. Namun, akibat harganya kurang bersahabat, banyak petani tidak merawat kebun serainya, jika harga tidak membaik ke depan, dikhawatirkan banyak petani mengganti serai wangi dengan tanaman lain.[]

Penulis: Anuar Syahadat, Jurnalis portalsatu.com/ untuk wilayah Gayo Lues.