Oleh: Taufik Sentana*

Menyebut kata “Aceh”, tergambar di benak kita suatu entitas dalam dinamika kebudayaan nasional, dan ianya terus bersinggungan dengan berbagai perubahan besar dunia yang membawa kegamangan/ketidakberdayaan tertentu.

Kita telah memasuki era teknologi-informasi dan digitalisasi berbagai sektor. Sementara itu kita belum mahir dalam menggarap industrialisasi dan trend investasi (juga asing) dengan segala dampaknya.

Pun kita masih pada kenyataan bahwa watak agraris dan pesisir masyarakat yang begitu kental. Jebakan era ini menjadikan kita gamang dalam mengikuti denyutnya. Dan itu dapat memunculkan disharmoni kompleks dalam struktur masyarakat ataupun individu.

Maka, menyebut “Aceh”, iapun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari banjir besar budaya global yang berujung pada “realitas baru” kebudayaan kita. Kebudayaan baru ini bermuara dari gencarnya perkembangan media (dulu) televisi, dan sekarang, media digital dan media sosial serta ragam arus pop lainnya dalam musik, kuliner, pakaian, bahkan nilai-nilai hidup.

Dan dipastikan, benturan nilai itu akan terjadi, antara lokal dan global, antara klasik dan modern, antara tua dan muda, dst. Kesemuanya mesti dalam filter kearifan tertentu secara tepat, bila tidak, Aceh akan menjadi objek (semata objek) dari Hegemoni Kebudayaan Global yang terus membanjir dan melimpah. Sementara kebudayaan asli kita mungkin akan terpinggirkan.[]

*Peminat studi budaya pop.

Diadaptasi ulang dari koran Harian Aceh, 2012, Aceh dalam Arus Budaya Pop. Bagian satu dari tiga tulisan.