Oleh Taufik Sentana*

(bagian satu dari tiga ulasan)

Aceh 2025/1446 H, begitu judul novel yang ditulis Thayeb tahun 2014 lalu, penerbit Yatsrib Baru, Banda Aceh. Novel itu berisi 316 halaman dengan 21 bab. Tokoh utamanya adalah Tuanku Ben Suren. Ini adalah novel beraliran futuristik yang menggambarkan visi dan harapan terbaik pengarangnya tentang masa depan Aceh. Si pengarang sendiri sering terlibat dalam narasi dan aksi kebudayaan, di antaranya dalam kerjasama Aceh-Turki lewat LSM PuKAT.
Sedang pada beberapa dekade di belakang, Thayeb aktif terlibat dalam revolusi” merah, GAM (istilah penulis). Sampai akhirnya mendidikasikan diri lewat pena dan panggung kebahasaan.

Berikut adalah petikan bebas tentang bagaimana keadaan Aceh di Tahun 2025 dst, di mata Thayeb Loh Angen. Dengan membaca petikan ini, kiranya kita bisa merefleksi arah Aceh dari waktu ke waktu. Inspirasi novel ini agaknya dari fakta sejarah bahwa Aceh pernah menjadi bagian dari kemajuan” dunia, sekitar 700 tahun yang lalu.

1.  Secara taktis-politis, tonggak pencapaian Aceh diawali dari revolusi putih”, tahun 2021. Masyarakat Aceh secara massif bersepakat melakukan perubahan mutlak atas semua unsur kebudayaan mereka, termasuk falsafah dari kebudayaan dan kemajuan mereka yang berlandaskan atas Tauhid. Dalam aksi terbuka dan besar ini, tak ada sedikitpun kekerasan dan semua berlangsung aman_ damai. Para pelaku perubahan mutlak inipun tak diketahui detail mereka, namun memberi andil dalam perubahan Aceh ke arah kebaikan.

2.  Perubahan mutlak yang dimaksud, sejatinya sudah dipersiapkan secara bertahap oleh beberapa penggerak, utama adalah elemen anak muda dan kaum terpelajar. Merekalah yang menggiring massa pada revolusi putih di atas. Secara materil, cikal bakal finansial pasca revolusi itu adalah dari aset aset negeri yang ditarik kembali dari para pejabat yang mencuri, sedang mereka dikucilkan, dihukum di depan hakim dan ulama. Sehingga tak ada lagi yang berfikir untuk berniat mencuri, sedang sistem hukum pun sudah berjalan rapi dan bersih.

Dalam pada itu, secara ekonomi, Aceh telah melaju pesat lewat jalur perdagangan. Utama dari jalur laut di Pelabuhan Malem Diwa Kreueng Geukuh, menuju selat Hormuz, Iran dan beberapa negara Asia Barat. Secara budaya lokal, pemerintah negeri menggalakkan pembangunan rumah Aceh dan Meunasah serta pertanian. Adapun dari segi gairah anak muda, mereka lebih cenderung aktif dalam penemuan dan percobaan di bidang teknologi tepat guna, seperti permainan pesawat yang dikendalikan manual sebagai percobaan. Bahkan, mereka juga telah merancang semacam satelit angkasa sendiri untuk kepentingan informasi, pendidikan dan lainnya.

3. Pondasi ekonomi Aceh yang kuat, selain karena integritas individu dan pengelolaan yang baik serta kondisi daerah yang aman: perempuan pun tak perlu takut bila bepergian dari Sabang ke Barus tanpa mahramnya. Kekuatan ekonomi tadi, juga ditopang oleh kumpulan pengusaha Aceh dalam Perusahaan Setekad. Dalam kumpulan ini semuanya saling membantu, Sehingga setiap pengusaha bisa berkembang dan mencapai sukses di bidangnya. Oleh karena itu setiap orang akan terdorong untuk membangun usaha dari setiap problem yang dihadapi, termasuk membuat pemecah angin laknat (semacam puting beliung) agar dampakya tidak sampai merusak.[]

Bersambung……………..
ke petikan selanjutnya tentang ciri khas kota Aceh Masa depan. Tentang letak ibu kota Aceh yang baru, kemajuan dan gaya hidup dst………

*Peminat literasi sosial dan budaya.