Para pejabat yang ditempatkan dalam Pemerintahan Residen Aceh merupakan orang-orang berpengaruh dan pegawai-pegawai senior yang pernah bekerja di kantor-kantor pemerintahan Jepang.
Teungku Muhammad Daud Beureu’eh diangkat menjadi Bupati yang diperbantukan pada Pemerintahan Daerah dalam bidang urusan Agama, sedangkan Teuku Muhammad Ali Panglima Polem diangkat dengan kedudukan serupa dengan tugas dalam bidang ekonomi. TM Amin diangkat sebagai Bupati yang diperbantukan untuk urusan Pemerintahan Umum, dan Usman menjadi Sekretaris Pemerintah Daerah, Tgk H Hasballah Indrapuri sebagai Kepala Mahkamah Syariah.
Kemudian para kepala jawatan dan jabatan inti lainnya yang diangkat adalah: Teungku Abdurrachman Matang Geulumpang Dua sebagai Kepala Jawatan Agama; Dr M Mahjuddin sebagai Kepala Jawatan Kesehatan; Ir M Tahir sebagai Kepala Jawatan Pekerjaan Umum; Said Ahmad Dahlan sebagai Kepala Jawatan Penerangan.
Sebelum Said Ahmad Dahlan, yang menjadi Kepala Jawatan Penerangan ialah T Abdullah Umar Muli. Dalam perjalanannya Said Ahmad Dahlan kemudian juga digantikan oleh Osman Raliby pada tahun 1946.
Pejabat lainnya yang ditunjuk adalah Ali Hasjmy sebagai menjadi Kepala Jawatan Sosial; Muhammad Hasjim sebagai Kepala Kepolisian; Tgk M Hasan Ali sebagai Kepala Kejaksaan; Mr SM Amin sebagai Kepala Kehakiman; Tgk H Muhammad Hanafiah sebagai Kepala Jawatan Perdagangan.
Selain itu, Raden Hadri sebagai Kepala Jawatan Pertanian; Raden Insun sebagai Kepala Jawatan Kereta-api; A Gani Adam sebagai Kepala Jawatan Perindustrian; Ali Murtolo sebagai Kepala Jawatan Pendidikan; A Muid sebagai Kepala Jawatan Keuangan; Kamaroesid sebagai Sekretaris Komite Nasional.
Lebih jelas tentang struktur Pemerintahan Residen Aceh yang dibentuk setelah pelucutan senjata Jepang itu bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan (Perjuangan Kemerdekaan di Aceh 1945-1949) halaman 117-118.[**]



