Perundingan antara Laksamana Malahayati dengan James Lancaster dilakukan dengan bahasa Arab. Lancaster waktu itu membawa penerjemah seorang Yahudi dari Inggris yang lancar berbahasa Arab.

Dalam pembicaraan itu utusan Inggris mengemukakan tentang pentingnya menjalin hubungan dagang antara Inggris dengan Aceh. Selain itu Lancaster meminta kepada Keumalahayati agar tetap memusuhi Potugis dan menerima dan membantu orang Inggris yang mengunjungi dan berdagang di wilayah Kerajaan Aceh.

Denys Lombard, dalam “Kerajaan Aceh Jaman Sulthan Iskandar Muda”, Balai Pustana, 1986, mengungkapkan, dalam pembicaraan itu, Laksamana Malahayati meminta kepada Lancaster agar semua keinginan Inggris itu disampaikan atas nama Ratu Inggris dan dibuat secara tertulis untuk disampaikan kepada Sultan Aceh.

Setelah surat itu selesai dibuat, Malahayati baru  memperkenankan Lancester menjumpai Sulthan Aceh. Sultan Aceh kemudian didampingi Laksamana Malahayati bersedia berunding dengan Lancaster sebagai wakil Ratu Inggris.

Kedatangan diplomat dan misi dagang Inggris ke Aceh itu ternyata membuat Portugis tidak senang. Portugis kemudian mencoba menyerang wilayah Aceh dan merebut sebuah pulau di pantai Aceh untuk mendirikan sebuah benteng pertahanan. Sultan Aceh tidak terima wilayah kekuasaannya dicaplok. Laksaman Malahayati ditugaskan dengan armadanya untuk mengusir Portugis.[**]