Sejarawan asal Rotherdam, Belanda, Cornelis Van Dijk dalam buku Darul Islam: Sebuah Pemberontakan menjelaskan, BKR bertujuan menegakkan pemerintahan yang bersih. Tapi, melihat statemen-statemen yang dikeluarkannya, jelas badan ini bertujuan menggugat PUSA. BKR misalnya, meminta pemerintah pusat membersihkan panitia Pemilu 1955 dari anasir-anasir PUSA.

Kunjungan pejabat Jakarta ke Aceh masa itu kerap disambut oleh demonstrasi pendukung keduanya. Salah satu poster yang dibentangkan BKR misalnya berbunyi, “Teungku Daod Beureueh Pengisap Darah Rakyat.” Van Dijk malah menuding gerakan PUSA tak independen. Persenjataan PUSA ketika bertempur, misalnya, tak lain berasal dari Jepang.

Tapi tudingan ini dibantah M Nur El-Ibrahimy dalam buku Teungku Daod Beureueh Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, buku ini diterbitkan pada tahun 1982, Jakarta oleh penerbit Gunung Agung. Menurutnya, mereka berperang dengan menggunakan sisa-sisa senjata milik Jepang yang disita rakyat.

M Nur El-Ibrahimy mengatakan serangan kepada Abu Beureueh dan PUSA memang beragam. Tak hanya itu, gerakan kepanduan milik PUSA, Kasysyafatul Islam, pernah disebut sebut menerima bantuan 4.000 pakaian dan Borsumij, sebuah perusahaan Belanda. “Bagaimana masuk akal kami menerima sumbangan dari musuh?” tulis El-Ibrahimy.

Pemberontakan Abu Beureueh berlarut-larut sebagian pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menjalin kontak dengan pusat dan turun gunung, sementara itu rakyat lelah oleh perang. Pada 1961, ia menyerahkan diri kembali ke pangkuan Republik, selepas menjalani pemberontakan yang panjang.

Dalam surat menyuratnya dengan Kolonel M. Jassin, Panglima Kodam I Iskandar Muda, yang diutus untuk membujuk Abu Beureueh, ia menyatakan kesediaannya untuk turun gunung dengan lebih dulu diberi kesempatan bermusyawarah dengan kalangan ulama.

Setelah itu Abu Beureueh bukan lagi pejabat, bukan pemimpin pemberontak, tapi pengaruhnya tak menyusut banyak. Awal Mei 1978, ia bahkan diasingkan ke Jakarta oleh pemerintah Orde Baru untuk mencegah karismanya menggelorakan perlawanan rakyat Aceh.

Di Jakarta, meski dipinjami kendaraan pribadi dan biaya hidupnya ditanggung pemerintah, Abu Beureueh menderita. Kesehatannya merosot tajam. “Tidak ada penyakit yang serius yang diidap Teungku Daud kecuali penyakit rindu kampung halaman,” kata El-Ibrahimy.

Abu Beureuh tapi tutup usia di  Aceh tahun 1987. Nafasnya berhenti hanya dua tahun sebelum pemerintah menetapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Masa yang membuat luka di Tanah Rencong kembali berduka. [**]