Pada 10 Oktober 1945  terjadi serah terima kekuasaan atas Sumatera dari Jepang kepada Sekutu. Penyerahan kekuasaan itu dilakukan di geladak kapal HM Venus milik Sekutu yang sandar di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.

Pihak sekutu diwakili oleh Komandan Royal Artilery 26th Indian Division, sementara dari pihak Jepang diwakili oleh Komandan Japanese Imperial Guards ke-2. Kedua pihak menandatangani syarat-syarat penyerahan kekuasaan atas Sumatera.

Setelah penandatangan penyerahan kekuasaan atas Sumatera tersebut, tentara sekutu secara berkala diturunkan menuju Kota Medan. Pasukan Sekutu pertama yang diturunkan berasal dari Inggris dipimpin oleh  Brigadir Jenderal TED Kelly.

Pendataran pertama tentara Sekutu di Belawan ini berjumlah 800 tentara bersenjata lengkap dan modern.  Tentara Sekutu ini terdiri dari serdadu-serdadu Inggris, India, Gurkha, yang di dalamanya juga diboncengi oleh tentara-tentara Belanda (NICA). Pasca kekelahan Jepang, Belanda ingin kembali menguasai Indonesia melalui Sekutu.

Baca: Tgk Muhammad Daod Buereueh Mengultimatum Presiden Soekarno

Sejarawan Aceh yang juga pejuang kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasjah Talsya dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan mengungkapkan, berita masuknya tentara Sekutu ke Sumatera melalui pelabuhan Belawan tersebut cepat menyebar ke berbagai wilayah.

Di Aceh berbagai persiapan dilakukan untuk mencegah masuknya tentara Sekutu. Bekas-bekas tentara Belanda (interniran) di Aceh yang kebanyakan dari Ambon, Madura dan Jawa yang sempat ditawan saat 3 tahun pendudukan Jepang, dibebaskan dan diajak bergabung dalam Barisan Pemuda Indonesia (BPI) dan laskar-laskar perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kepada para interniran di kamp-kamp tahanan di Bireuen dan Takengon serta beberapa kamp tahanan daerah lainnya di Aceh, diyakinkan tentang kemerdekaan Indonesia, berjuang bersama untuk mempertahankan kemerdekaan, dan menolak untuk bergabung dengan tentara Sekutu/NICA. Karena Belanda yang memboncengi Sekutu bermaksud untuk mengumpulkan sisa-sisa interniran tersebut untuk melancarkan agresi kedua di Indonesia.

Pasukan Sekutu pimpinan Brigadir Jenderal TED Kelly yang masuk ke Kota Medan melalui Belawan kemudian membuat keonaran, provokasi dan intimidasi terhadap penduduk. Suasana di Kota Medan tidak terkendali, akibat seringnya terjadi pertepuran. Untuk melawan tentara Sekutu yang diboncengi Belanda tersebut, dari Aceh dikirim ribuan tentara dari berbagai front dan laskar perjuangan rakyat.

Baca Juga: Tgk Muhammad Daod Beureueh Mendirikan  Yayasan Baitul A’la Lilmujahidin

Pasukan dari Aceh yang dilengkapi dengan senjata moderan hasil rampasan dari Jepang ditempatkan di sebelah barat Kota Medan. Sebagiannya berada di Kampung Lalang, pasukan ini selain dilengkapi dengan senjata serbu, juga dibekali dengan meriam dan senjata berat penangkis serangan udara dan laut.

Tindakan tentara Sekutu di Kota Medan semakin hari semakin beringas. Untuk melawan agresi Belanda dan Sekutu di Medan tersebut, MR Teuku Muhammad Hasan selaku Wakil Pemimpin Besar Bangsa Indonesia untuk seluruh Sumatera mengirim kawat ke berbagai wilayah di Sumatera untuk terus memperkuat barisan perjuangan.

MR Teuku Muhammad Hasan yang juga putra Aceh tersebut meminta kepada juniornya di Aceh Teuku Nyak Arief selaku Residen Aceh agar menghalangi Sekutu masuk ke Aceh di perbatasan dengan cara apa pun, karena Aceh satu-satu daerah modal yang masih bebas dari agresi Belanda dan Sekutu. Karena itu pula setiap hari ada mobilisasi pasukan dari Aceh untuk memperkuat pasukan pejuang di Tanjung Pura.[]