Rapat memutuskan agar Kolonel M. Jasin yang akan berangkat ke Jakarta dalam rangka tugas dinasnya, diminta untuk melakukan pembicaraan dengan instansi terkait untuk merealisasi pembangunan universitas di Aceh.

Sejak 1958, Pemerintah daerah istimewa Aceh juga sudah mengutus Ibrahim Abduh anggota Dewan Pemerintah Daerah Aceh, dan Njak Yusda ke Yogjakarta dalam rangka mengumpulkan bahan-bahan dan melakukan penelitian sampai sejauh mana kemungkinan dapat dibangunnya satu universitas di Aceh.

Keduanya menjumpai Biro Asisten Provinsi Aceh Yogjakarta yang diketuai oleh Ismuha. Keduanya menjelaskan tentang rencana pembangunan universitas di Aceh. Tapi Ismuha memberi pendapat sebaiknya  jangan tegesa-gesa. Membangun sebuah universitas butuh biaya besar dan tenaga pengajar waktu itu belum ada. Bila memungkinkan dibuka saja Akademi atau Kursus B1 yang akan menciptakan guru-guru untuk sekolah lanjutan. Disamping itu dalam rangka menciptakan kader, berikan beasiswa kepada putra-putra daerah untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi dan universiats di luar aceh.

Meski demikian, tekad sudah bulat di Aceh, dan akhirnya Univeritas Syiahkuala dibuka dengan Fakultas Ekonomi sebagai fakultas pertama. Biro Asisten Provinsi Aceh Yogjakarta kemudian terus mengirim tenaga-tenaga guru SMA ke Aceh dalam rangka Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PGM) sehingga dalam waktu singkat bisa dibuka SMA di seluruh Aceh. Biro Asisten Provinsi Aceh Yogjakarta juga mengirim mahasiswa-mahasiswa Aceh untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri di berbagai jurusan.