Pada 10 Februari 1946, para pemimpin Komite Nasional Indonesia Keresidenan Aceh bersama para wakil dari berbagai organisasi perjuangan dan tokoh masyarakat berangkat dari Banda Aceh ke Luhak Pidie untuk menyelesaikan persoalan Cumbok.
Para pemimpin Aceh mendatangi Luhak Pidie untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ditimbulkan. Di berbagai tempat yang dikunjungi, Wakil Residen Aceh, TT Muhammad Daodsyah melakukan pengangkatan dan pelantikan pegawai-pegawai negeri yang baru, menggantikan para pegawai yang terlibat dalam perang Cumbok.
Baca Juga: Pertemuan Pertama Komandan GAM dan Komandan TNI
Bersama Wakil Residen Aceh TT Muhammad Daodsyah hari itu juga ikut datang ke Luhak Pidie antara lain Residen Aceh yang mewakili Gubernur Sumatera Tuanku Mahmud, Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh MR S Muhammad Amin, Wakil Markas Pusat Mujahidin Aceh T Muhammad Amin, Ketua Markas Daerah Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Daerah Aceh Ali Hasjmy, serta beberapa tokoh lainnya seperti Amelz, S Aboebakar, Tengku Ismail Jakoeb dan S Ahmad Dahlan.
Pada hari yang sama, 10 Februari 1946 di Banda Aceh juga dilakukan gerakan mengumpulkan donasi untuk korban perang Cumbok, selain melakukan penggalangan dana juga dilakukan pengumpulan pakaian bekas layak pakau, perabot rumah tangga dan berbagai jenis barang kebutuhan rumah tangga lainnya untuk disumbangkan kepada korban perang Cumbok.
Baca Juga: Dewan Perjuangan Rakyat Aceh Dibentuk
Perang Cumbok merupakan perang antara golongan ulama dengan kaum feodal (uleebalang) di Aceh. Ini merupakan sebuah fragmen kelam dalam sejarah panjang perang saudara di Aceh. Disebut perang Cumbok karena gerakan perlawanan kelompok Ulebalang itu dipimpin oleh Mukim Cumbok Teuku Muhammad Daod, ia dikenal sebagai Daod Cumbok.
Tapi pemberontakan kelompok Uleebalang Cumbok yang pro pada Belanda tersebut dapat dipatahkan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) beersama berbagai laskar perjuangan rakyat.[]




