Pada 2 Mei 1948 di Banda Aceh didirikan Serikat Dagang Islam Indonesia (SDII) untuk menyelenggarakan dan memimpin perdagangan umat Islam Indonesia, sesuai dengan aturan dan undang-undang negara, serta tidak menyalahi hukum agama Islam.
Pengurus organisasi ini terdiri dari: Ketua M Djunet JS, Wakil Ketua I Mahmud AR, Wakil Ketua II Budiman (tokoh tani), Wakil Ketua II Ismail Ahmad. Kemudian tiga orang setia usaha yakni Muhammad Hasan, H Nuruddin dan Muhammad Hasan Ibrahim.
Untuk posisi bendahara ditunjuk dua orang yaitu Teuku Oebit dan Mahmud yang dibantu oleh beberapa orang anggota lainnya diantaranya: Muhammad Jusuf Bahrum, H Bustaman, S Muhammad, Abdullah Manaf, Muhammad Leubok dan Teungku Zamzam.
Pada hari yang sama di Banda Aceh juga dilakukan musyawarah Persatuan Pendidik Islam Indonesia (Perpisi). Dalam rapat yang digelar di Sekolah Rendah Islam Masjid Raya Baiturrahman, diputuskan untuk memilih dewan pimpinan baru Perpisi.
Hasilnya disepakati, Mahjuddin Jusuf diangkat sebagai ketua umum, Ibrahim Amin sebagai ketua satu, Zakaria Ahmad sebagai ketua dua, H Muhammad sebagai panitera umum, Muhammad Junus Mansur sebagai panitera satu, Muhammad Daud Maun sebagai panitera dua, dan Teungku Usman sebagai bendahara.
Sebagai ketua dewan pengajar, pendidikan, perpustakaan dan kebudayaan ditunjuk AR Hasyim, dewan pengarah dan penyiaran Zakaria Ahmad, dewan kemakmuran Ahmad Idris. Pengurus baru Perpisi tersebut juga dibantu oleh beberapa orang anggota, seperti Said Jasin, Teungku Mahjuddin, Muhammad Daud Ibrahim, dan Admam Djafar. [**]


