Fatwa itu ditulis dengan menggunakan akasara Arab Jawi. Berisi seruan kepada segenap kaum muslimin untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan, dan hendaklah bersama-sama menghimpun tentara Mujahidin untuk membela agama dan meninggikan kalimatullah  dan mengikuti aturan Islam.

Dalam fatwa itu ditegaskan, wajib untuk bersama-sama melawan musuh Allah dan musuh Rasul-Nya, dan hendaklah mengorbankan jiwa raga dan harta pada menolong agama Allah dan kerajaan/negara yang sah. Lebih jelasnya isi fatwa tersebut setelah dialihkan ke aksara latin adalah sebagai berikut:

Bismillah, nasehat kepada sekalian Muslimin

Alhamdulillahi ‘azza sya’nuhu, wasshalatu wassalamu’ala Rasulillah. Diharapkan kepada sekalian saudara Muslimin, bahwa sekalian kita bersambung dengan nikmat Allah, yaitu kemerdekaan negeri kita Indonesia.

Hendaklah sekalian kita bersyukur kepada Allah atas nikmat itu dan lain-lain nikmat. Pun hendaklah kita berapat-rapat bersama-sama atas menghimpun Tentara Mujahidin untuk menolong agama Allah dan meninggikan kalimat Allah dan mengikut aturan Islam.

Qalal-lahu Ta’ala: In tanshurullah, yansurkum wayusabbit aqdaamakum. Waqala Ta’ala: Wa ta’aawanu ‘alal birri wat-taqwa, wala ta’aawanu ‘alal ismi wal-‘udwan. Wawala Ta’ala: Ta’lau ila kalimaatin sawaun bainana wabainaku anla na’buda ilallah walanusyrika bihi syaian, yattakhizu ba’dluna ba’dluna arbaban min dunillah, fain tawallau faqulu: Isyadu bianna muslimun. Waqala Ta’ala:  waddu lau takfuru kama kafaru  fatakununa sawaan. Qalallahu Ta’ala: Walau tardla ‘ankal yahudu walan nashara hatta tattabi’a millatahum.

Wajiblah kita bersambung-sambung atas melawan musuh Allah dan musuh Rasul-Nya, dan mengikuti Sulthan Muslimin, jangan mengikuti penjajah kafir, atau yang condong kepada mereka itu, yang hendak menjajah kembali Indonesia.

Wajiblah atas kita kasih dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan hendaklah kita mengorbankan jiwa dan harta benda kepada menolong agama Allah dan kerajaan/negara yang sah.

Haza, wassalamu ‘ala man ittaba’al huda

Katabahu al-faqir al-haqir al-Hajj Muhammad Hasan

Krueng Kale, 18 Zulka’idah 1364.

(tanda tangan Teungku Muhammad Hasan)

Fatwa ini kemudian disebarkan seluruh Aceh, nasionalisme rakyat Aceh dibangkitkan kembali untuk berjihad dalam perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang coba direbut kembali oleh Belanda melalui sekutu dan NICA.[]