BANDA ACEH – Kasi Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Mukhsin Syafii mengungkapkan, Provinsi Aceh ke depan perlu adanya penambahan keberadaan sirene peringatan tsunami.
“Perlu penambahan sirene. Selama ini anggaran mitigasi belum menjadi prioritas seharusnya ditambah. Setelah 2015, baru ada penambahan satu di Aceh Barat dan satu di Aceh Jaya,” ungkap Mukhsin, Selasa, 26 Desember 2017.
Permintaan penambahan alat peringatan tersebut disampaikan oleh pihak BPBA usai simulasi uji coba sirene dalam memperingati 13 tahun tsunami melanda Aceh. Enam sirene yang dimiliki saat ini suaranya hanya mampu terdengar hingga radius lebih dari dua kilometer, namun tidak mampu menjangkau seluruh wilayah pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar.
“Tadi semua berbunyi. Jaraknya radius lebih dari 2 kilometer,” jelas Mukhsin.
Adapun titik lokasi enam sirene yang digunakan sekitar pukul 10.00 WIB tadi, untuk simulasi dengan suara asli selama enam menit, di antaranya di Kota Banda Aceh yakni di Kantor Gubernur Aceh, sirene Lampulo, dan sirene Blang Oi. Sementara sisanya terletak di Aceh Besar, yaitu di Kajhu, Lhoknga, dan Lam Awe.
Uji coba sirene kata Mukhsin, sebenarnya rutin digelar setiap tanggal 26, namun jarak radius jangkauan hanya sekitar 700 meter hingga 1 kilometer. Sedangkan pada peringatan 13 tahun tsunami, BPBA membunyikan sirine dengan suara real sound atau suara maksimal. Akan tetapi sangat disayangkan jika bencana datang, sirine ini tidak terdengar di seluruh Banda Aceh dan sekitarnya.
“Oh tidak (terdengar). Di Banda Aceh dan Aceh Besar masing-masing ada 3 titik. Satu titik radiusnya dua kilometer lebih,” ujarnya.
Berdasarkan hal itu, kedua daerah tersebut masih membutuhkan sekitar enam sirene tambahan yang rencana diletakkan di beberapa lokasi, seperti Lhoong, Leupung, Lampanah, dan Peukan Bada. Hal ini untuk mengantisipasi jika terjadi bencana, BPBA mengedukasi masyarakat dengan memberitahukan ciri-ciri gempa yang berpotensi tsunami.
“Gempa berpotensi tsunami itu di antaranya durasi gempa 1 menit, kekuatan skala MMI itu tidak bisa berdiri orang dewasa,” jelas Mukhsin.
“Sirine ini bukan tanda tsunami datang. Tapi tanda evakuasi,” jelasnya lagi.
Sehubungan dengan itu, BPBA juga mengungkapkan perlu dilakukan penambahan enam escape building (gedung evakuasi) di Banda Aceh untuk dapat menjangkau seluruh masyarakat di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.
“Daerah Tibang dan Gampong Pande Banda Aceh belum ada escape. Seharusnya, setiap komunitas desa itu harus ada satu escape building,” ujar Mukhsin.[]




