Dalam rangka menghambat laju perkembangan virus corona di wilayah kita, tentulah kita menataati setiap seruan pemerintah setempat. Sembari terus berupaya dan bersinergi serta saling menjaga agar masa sulit ini cepat berlalu.
Setelah muncul arahan siaga darurat setidaknya hingga akhir Mei, yang diiukuti dengan menghentikan belajar formal di sekolah serta membatasi keramaian dan menetap di rumah.
Maka banyak muncul ragam intrepetasi dari warga. Semisal, bagaimana pendapatan harian mereka yang bergantung pada pengunjung yang datang. Jaminan apa yang dapat masyarakat terima bila sekiranya berlaku ” isolasi mandiri” di setiap rumah dalam waktu di atas. “Apa mau mereka jamin kredit mobil sewa kami dan beras kami dalam sebulan, makan dgn garam, boleh juga”, kata seorang sopir yang penulis jumpai kemarin.
Atau pemerintah perlu menguraikan bagaimana taktis dan kriterianya tentang upaya meniadakan keramaian dan menutup tempat umum itu, agar setiap warga memahaminya tanpa risau.
Karena ada yang beranggapan, ini masanya “tangan polisi” bertindak, setiap pelanggaran ada sanksi dan akibat dari tidak mengindahkan seruan pemerintah.
Oleh karena itu pemerintah perlu menerbitkan semacam penjelasan yang menenteramkan, bukan semata seruan tanpa penjelasan lengkap. Sebab itu bisa menambah kecemasan masyarakat yang justeru memperburuk keadaan.[]
Taufik Sentana
Peminat masalah sosial-budaya



