PULAU Simeulue, Aceh, kini sudah tidak asing lagi di telinga setiap orang. Baik secara nasional maupun di seantero dunia. Tak dapat dipungkiri, perolehan ini adalah buah dari pembangunan berkelanjutan dan promosi-promosi yang telah dirintis oleh setiap pemimpin dari masa-masa.

Putra-putri dari kabupaten hasil pemekaran Aceh Barat tahun 1999 tersebut, juga semakin menghiasi sejumlah lembaga. Mereka ada di berbagai bidang dan profesi; pegawai negeri, TNI, Polri, kejaksaan, kehakiman, jurnalis, wiraswasta, nelayan handal, petani dan sebagainya. Mereka juga ada di mana-mana; tingkat nasional, provinsi, pada berbagai kabupaten di negeri ini bahkan ada yang bekerja di luar negeri.

Hasil alam Simeulue juga tak kalah melimpah dari daerah lainnya di Aceh bahkan Indonesia. Ada cengkeh, kelapa, durian, pala di setiap perkebunan warga. Di lautan ada lobster dan semua jenis ikan, ditambah panorama alamnya yang indah. Berbagai fasilitas wisata di sana juga telah tersedia, walau masih sederhana.

Transportasi juga telah mendekatkan berbagai lokasi yang sebelumnya jauh. Jalan lingkar kini mengelilingi Simeulue, bandar udara setiap harinya didarati pesawat tujuan Medan, Sumatera Utara dan Aceh, ibu kota provinsi. Kapal Feri yang setiap harinya mondar-mandir dari dan ke Simeulue-Aceh Selatan- Meulaboh dan Aceh Jaya.

Begitulah sekilas kondisi Pulau Simeulue atau Kabupaten Simeulue, Aceh hari ini, meski masih banyak kekurangan di sana- sini. Harapan warga di sana, bagaimana daerah mereka lebih maju dan kehidupan mereka lebih sejahtera di masa mendatang.

***

Untuk mewujudkan itu, tentu saja harus ada tangan-tangan terampil yang bisa memoles agar Simeulue lebih maju sesuai harapan warga. Dan, tangan-tangan terampil itu ada pada putri-putri daerahnya, baik yang saat ini mengabdi di luar Simeulue maupun mereka yang menetap di sana. 

Namun, masyarakat punya penilaian sendiri siapa yang menurut mereka lebih mampu dan terampil memimpin daerahnya di masa mendatang di antara putra-putri terbaik itu. Kali ini, penilaian utama tertuju pada putra-putri daerah yang menurut mereka sudah banyak makan “asam-garam” di negeri orang (luar Simeuleu) dan “diperhitungkan”. Diperhitungkan adalah sebuah ungkapan kepada seseorang yang memiliki jabatan penting pada sebuah lembaga atau organisasi.

Pertanyaannya mengapa harus putra-putri Simeulue yang menetap dan diperhitungkan di negeri orang? Jawabannya: dapat dipastikan dia sudah tertempa oleh kondisi hidup dan memimpin di wilayah yang bukan tempat lahirnya, dia sudah melihat bagaimana menata, membangun sebuah wilayah dalam perpolitikan yang harmonis, dia sudah memiliki jejaring yang kuat,  memiliki kepribadian dan jiwa  kepemimpinan yang hakiki.

Lalu siapa orang yang dinilai tepat memimpin Simeulue sesuai kriteria di atas? Tersiar sebuah nama berpangkat perwira menengah di kepolisian negeri ini, yakni AKBP Mohammad Nasrun Mikaris, S.H, M.H., dia kini menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Jakarta Selatan, setelah sebelumnya menempati berbagai posisi setrategis di kepolisian dan sebagai Kepala BNNK Jakarta Timur.

Nasrun Mikaris yang awal tahun mendatang akan berpangkat Komisaris Besar (Kombes) ini, menamatkan pendidikan dasar, SMP dan SMA-nya di Simeulue. Sarjana hukumnya di Universitas Syiah Kuala dan S-2 di Untag Semarang.

***

Pemilihan kepala daerah (pilkada) memang masih lama, lebih kurang masih satu setengah tahun lagi. Namun demikian, para calon di berbagai kabupaten di Aceh mulai memunculkan diri ikut menghiasi pilkada mendatang. Sedangkan Simeulue masih adem-adem saja, baru sebatas membincangkan siapa yang akan maju dan dipilih, meski pun sejumlah nama calon sudah ada di tangan, salah satunya Mohammad Nasrun Mikaris. 

Banyak warga di sana menaruh harapan agar perwira polisi ini kelak menjadi pemimpin di kepulauan itu. Karena itu jua, sehingga lahirlah tulisan pojok mengajak AKBP Nasrun Mikaris pulang ke kampung kelahiran, Simeulue ini. Kapan bang MONAS pulang??[]

Penulis: Juli Amin warga asal Simeulue di Banda Aceh.