BANDA ACEH – Koordinator Aktivis Inong Aceh, Cut Asmaul Husna, mengecam tindakan kekerasan oknum Polri terhadap Ketua Komisi I DPRA dan mahasiswa pada hari memperingati perdamaian Aceh di Banda Aceh, 15 Agustus 2019.

“Tindakan represif oknum aparat negara sangat bertentangan dengan SOP Polri. Kita sangat menyayangkan perilaku primitif terjadi di tengah usaha banyak pihak sedang khitmad merayakan 14 Tahun Damai antara RI dan GAM,” kata Cut Asmaul Husna dalam siaran persnya, 16 Agustus 2019.  

Cut Asmaul Husna menilai tindakan kekerasan yang dilakukan aparat bukan sekadar tidak sesuai dengan prosedur pengamanan terhadap aktivitas demontrasi yang dilakukan mahasiswa, “tapi juga sangat tidak bermoral, tidak beradab, bahkan cenderung menampilkan brutalisme”. 

“Rekaman video yang menyebar luas sungguh membuktikan tindakan brutalisme nyata adanya. Ini sungguh memalukan di tengah upaya Polri menjadikan institusinya sebagai pengayom masyarakat,” ujar Cut Asmaul Husna.

Seharusnya, menurut Cut Asmaul Husna, polisi melakukan tindakan pengamanan dalam kondisi dan situasi yang kondusif. “Mengapa mereka tidak berupaya melakukan pengamanan dengan pendekatan persuasif? Ini menjadi pertanyaan publik, yang seharusnya tidak perlu terjadi,” katanya. 

“Fakta yang ada membuktikan bahwa penyerangan itu membabi buta, tidak ada chek and balance, dan sasaran pemukulan terkesan upaya shock therapi terhadap Ketua Komisi I DPRA dari Fraksi Partai Aceh,  yang selama ini konsisten memperjuangkan misi damai sesuai MoU Helsinki,” ungkap Cut Asmaul Husna.

Cut Asmaul Husna menilai tindakan pemukulan tersebut menunjukkan superioritas Polri sangat berlebihan. “Kita khawatirkan situasi yang berkembang pascainsiden tersebut pada akhirnya akan berdampak buruk bagi institusi Polri. Dan karena itu, pelaku harus diberikan sangsi agar martabat Polri kembali pulih di Aceh,” ucapnya. 

“Kita berharap kekerasan masa lalu aparat negara tidak dipertontonkan kembali, karena hanya akan menanam benih permusuhan, bahkan bisa berdampak perlawanan kolektif seperti pengalaman di masa konflik,” tegas Cut Asmaul Husna.

Sekarang, kata Cut Asmaul Husna, “tugas kita bersama adalah kita tumbuhkembangkan perdamaian, merawat perdamaian dan memperjuangkan misi damai terwujud sepenuhnya. Untuk itu, kami Aktivis Inong Aceh mendesak Pemerintah segera menuntaskan implementasi UUPA dan MOU Helsinki secara menyeluruh, agar damai itu semakin indah, beradab dan bermartabat”.[](rilis)