Oleh Taufik Sentana*

“To be or not be“. Mungkin pernah dengar kalimat ini. Kalimat yang merepresentasikan pandangan tentang proses menjadi manusia, human being. Proses yang mengarahkan daya manusia pada tingkat eksistensinya, keberadaannya yang paling asasi. Tentu agaknya ini berseberangan dengan paham materialisme yang memandang manusia dan keberadaannya hanya seonggok materi.

Bila kita tinjau dari sudut pendidikan Islam, acuan terhadap eksistensi diri ini tercermin dalam redaksi Qurani, dengan sebutan “Insan“, “Abdullah” dan “Khalifatullah fil ardh“.

Kata “insan” merujuk kepada keseluruhan sifat manusia yang penuh lalai, bodoh dan materialistis. Seseorang dengan model ini hanya tampak mementingkan kesenangan dan kebutuhannya semata berdasarkan kebendaan dan sejenisnya. Ia bekerja dan beraktivitas hanya berorientasi pada unsur materil belaka. Bahkan, banyak yang mengabaikan fungsi dirinya sebagai Hamba Allah, yang terikat dengan kewajiban-kewajiban.

Sedangkan kata “Abdullah“, kita rujuk pada tipikal seorang Muslim yang dapat memahami kewajiban personalnya di hadapan Allah. Dengan tipe ini ia merealisasikan hidupnya dan berupaya untuk mencapai ikhlas dan rida. Hanya, kadang kala, tipe ini cenderung seperti mengabaikan eksistensi di luar dirinya, gejala sosial dan peristiwa alam tak membangun responsnya yang aktif. Artinya, ia hanya “sibuk” asyik/masyuk dalam ibadah ritusnya.

Maka dalam kajian kontemporer tentang aplikasi pendidikan Islam, tipe Khalifatullah fil Ardhi menjadi sentral ideal bagi eksistensi diri seorang Muslim. Dengan tipe ini, ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkup kemanusiaan, sembari memantaskan dirinya sebagai hamba Allah dan terus mengembangkan pengaruhnya dalam rangka perbaikan sosial, memakmurkan bumi dan tanggung jawab sosial lainnya.

Demikianlah sedikit pandangan tentang bagaimana kita membangun level eksistensi dalam merealisasikan makna kehidupan kita yang fana ini.

Semoga bermanfaat.[]

*Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam
Bergiat sejak 1996. Kini menetap di Aceh Barat