LHOKSUKON- Allah SWT berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, takutlah kepada Allah’. Pesan penting ini disampaikan Khatib Jumat dalam khutbahnya, Tgk. Saryulis, di Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara, Jumat, 18 April 2025.

 

“Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, untuk selalu takut kepada Allah di mana saja kita berada. Dan, rasa takut itulah (amal baik) yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah. Ketika sendirian kita takut kepada Allah, sehingga tidak terjadi maksiat dalam keadaan sepi. Begitu pula saat berada dalam keramaian ada rasa takut kepada Allah. Ketika berada di kantor (tempat kerja) kita takut kepada Allah, sehingga tidak terjadi korupsi maupun mengambil hak orang lain. Ketika sedang di pasar (berjualan) kita takut kepada Allah, sehingga tidak ada timbangan-timbangan (barang) yang kurang atau tidak terjadi kecurangan-kecurangan lainnya,” kata Tgk. Saryulis, asal Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

 

Menurutnya, perasaan takut menempati kedudukan yang amat penting dalam Islam, dan jenis ibadah yang sangat agung serta wajib dimurnikan hanya kepada Allah saja dan tidak menyandarkan kepada yang lainnya. Rasa takut kepada Allah SWT juga merupakan bagian dari akhlak yang semestinya dimiliki oleh seorang muslim.

 

Kemudian, Allah berfirman ‘Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok (kiamat)’. Maka Allah SWT memerintahkan kepada para hambanya untuk mengintropeksi diri, dan memikirkan telah berapa banyak persiapan yang telah dipersiapkan untuk menempuh perjalanan yang amat sangat jauh guna kembali kepada Allah SWT.

 

“Sudah berapa banyak amalan yang telah kita siapkan, hanyalah kita sendiri yang tahu. Orang lain belum tentu tahu, terkadang sebagian di antara kita merasa salah (buruk) sangka terhadap orang lain dalam hal beribadah. Pada intinya, amal ibadah itu tidak mampu diukur oleh setiap individu lainnya,” ujar Tgk. Saryulis.

 

Tgk. Saryulis mengajak jemaah untuk mengoreksi dirinya masing-masing. Seandainya tiba-tiba malaikat pencabut nyawa (Izrail) datang untuk mencabut nyawa, apakah sudah siap. Jika sudah meninggal dunia, maka seandainya jenazah itu adalah orang yang baik, ahli ibadah, orang yang menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya, maka jenazah itu sangat rindu kepada alam kubur dan ingin segera bertemu dengan nikmat Allah. Nikmat itu belum pernah terlihat oleh mata, nikmat yang belum pernah terdengar oleh telinga dan sebagainya, maka nikmat itu baru ada setelah mati (meninggal dunia).

 

“Tetapi seandainya jenazah itu adalah orang ahli maksiat, maka jenazah tersebut akan menangis histeris ketika dibawa ke liang lahad. Dan, dia tahu bahwa kuburan itu suatu tempat yang sangat mengerikan. Oleh karena itu, meskipun kuburan ini dengan kedalaman yang sama, tetapi kondisi di dalamnya belum tentu sama yang akan dihadapi oleh setiap manusia,” ungkap Tgk. Saryulis.

 

Tgk. Saryulis menyebutkan, maka selagi Allah masih memberikan kesempatan untuk beribadah kepadanya, mari mempersiapkan diri atau mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kembali kepada Allah SWT. Janganlah menunggu momen-momen yang tepat untuk melakukan kebaikan atau ibadah, karena masa-masa yang tepat itu tidak pernah datang. Maka kesempatan itu tidak akan datang kedua kali, marilah bertaubat dan manfaatkan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

 

Sementara itu, yang menjadi imam salat Jumat tersebut yaitu Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Tgk. H. Jamaluddin Ismail akrab disapa Walidi. []