Oleh Taufik Sentana*

Meskipun secara bahasa, kata santri bermakna pelajar, tapi sikap si pelakunya menunjukkan perbedaan yang mencolok. Bila ditilik secara sejarah, sepertinya istilah santri (pelajar Islam) lebih awal dikenal jauh sebelum Belanda mendirikan sekolah, yang kemudian menjadi kuku imperialismenya. Dan dari sini pula bermula dikotomi sekolah umum dan sekolah agama.

Minat masyarakat dalam menyekolahkan anaknya ke pesantren juga menunjukkan tren yang meningkat terus. Banyak sudah penelitian kualitatif perihal animo tersebut, di antaranya karena untuk mengurangi dampak negatif lingkungan luar. Meskipun diketahui pula bahwa pengaruh lingkungan internal pesantren pun bisa saja terindikasi “negatif”, tapi tentu margin erornya sangat kecil.

Banyak alternatif pesantren

Di tengah musim semi pesantren ini, dengan banyaknya muncul beragam nama, jenis dan pola pesantrennya, masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya ke pesantren jadi memiliki banyak alternatif. Termasuk juga sekolah umum yang menisbahkan dirinya dengan dayah yang diintegrasi dengan muatan hafalan Alquran dan life skill lainnya. Maka semakin mudah bagi masyarakat untuk memilih tempat pendidikan anaknya.

Sebagai gambaran, orang tua yang ingin membekali anaknya dengan ilmu keislaman murni dan klasik yang berorientasi menjadi teungku misalnya, bisa memilih pesantren tradisional yang sudah mapan dan diakui kiprahnya di tengah masyarakat. Dengan adanya program ma'had 'ali, juga mempermudah lulusannya untuk memdapatkan sertifikat ahli/sarjana, sesuatu yang belum ada beberapa tahun sebelum ini.

Para lulusan pesantren model ini, umumnya akan membuka pesantren yang baru pula di kampung halamannya atau di tempat lain yang dianggap representatif. Meskipun demikian, tidak menutup peluang bagi lulusannnya untuk berkiprah di bidang niaga atau kerja formal yang relevan.

Untuk model yang kedua, masyarakat bisa memilih pesantren modern (baca: dengan metode modern), yang mengintegrasikan kurikulum keislaman seiring dengan keilmuan yang bersifat umum (disebut juga ilmu fardu kifayah, kecuali pada kondisi tertentu). Pesantren dengan model ini juga dikenal dengan disiplin dan programnya yang rapi serta keragaman aktivitas santrinya dalam upaya pengembangan diri yang optimal. Slogan mereka yang umum dikenal  adalah “menjadi dai dalam profesi apapun di tengah masyarakat”. Lulusan pesantren model ini dianggap siap menjadi bakal intetektual sekaligus pemimpin dan penggerak perbaikan di masyarakat nantinya.

Beberapa keunggulan

Di bagian akhir catatan ini, perlu penulis utarakan beberapa keunggulan utama kaum santri sehingga mereka masih selalu menjadi primadona dengan romantikanya sendiri.

Keunggulan yang paling mencolok adalah intensitas mereka terhadap kajian keilmuan, interaksi terhadap kitab-kitab yang terencana, khusyuk dan penuh khidmat terhadap guru. Sebagian besar waktu mereka habiskan dalam hal di atas, ada yang sampai belasan tahun lamanya. Di poin ini, jalan yang mereka tempuh diyakini persis seperti dalam Hadis Nabi Muhammad SAW, bahwa mereka dalam posisi fi sabilillah. Ungkapan tersebut menjadi energi yang tak ada habisnya.

Di samping itu, keunggulan dalam implementasi dan pembiasaan amal ibadah juga lebih maksimal bila dibandingkan dengan sekolah yang lazim. Diakui bahwa kejauhan dari orang terdekat menjadi sebab terkabulnya doa.

Dan yang terpenting juga, menurut sebagian orang tua, memilih pesantren sebagai bekal pendidikan anak, merupakan usaha menjadikan si anak bisa “tuntas” pemahaman agamanya, paling tidak untuk “dirinya sendiri”. Syukur, bila kelak ia bisa berkiprah lebih luas dengan dasar yang ia terima di pesantren. Itulah di antara keberuntungan yang mereka dapatkan.

Selamat menyambut Hari Santri.

*Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia Kab. Aceh Barat
Alumni kelima Pesantren Darul Arafah
Pernah mengabdi di Yusriyah Langkat
dan di Pesantren Misabahul ulum Lhokseumawe.