Sabtu, Juli 13, 2024

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...
BerandaAlasan Mengejutkan di...

Alasan Mengejutkan di Balik Perubahan Pikiran Seseorang

KITA biasanya percaya bahwa pendapat kita sudah benar dan tak dapat diubah. Tapi riset baru menunjukkan bahwa pandangan kita, bahkan soal politik, berubah-ubah setiap waktu. Hanya saja alasannya bukan yang Anda duga.

Ke mana pun Anda melihat saat ini, kita sepertinya terpecah belah—tim #diabekerja atau #gantipresiden, pro Presiden Trump atau sebaliknya. Di meja makan atau di sosial media, rasa-rasanya pendapat kita tak akan berubah.

Tapi riset terbaru menunjukkan bahwa faktanya, kita bisa melupakan pendapat kita—dan ketidaksetujuan Anda bisa berubah jadi penerimaan.

Selama beberapa dekade, penelitian tentang bias konfirmasi menunjukkan bahwa kita cenderung mencari, memperhatikan, dan mengingat apa pun yang menguatkan pendapat yang sudah kita miliki.

Jika Anda suka minum anggur, misalnya, kemungkinan Anda akan lebih mengingat penelitian tentang manfaat alkohol daripada hasil riset tentang risikonya,

Otak kita juga lebih cepat memproses pendapat yang kita sepakati. Selama ini kita sudah tahu bahwa jika Anda memberi seseorang daftar kalimat yang salah secara faktual, mereka butuh waktu lebih lama untuk menemukan kesalahan tata bahasa, daripada jika pernyataan itu benar.

Jadi jika pernyataannya adalah “sabun dapat di makan”, akan lebih lama mencari kesalahan tata bahasanya karena maknanya juga tidak akurat.

Hal yang sama juga terjadi pada pendapat. Para peneliti di Universitas Hebrew Yerusalem baru-baru ini menyodorkan pernyataan ini kepada orang-orang: “Saya percaya internet membuat orang lebih mudah bergaul” atau “Saya percaya internet membuat orang lebih terisolasi”.

Sekali lagi, peserta percobaan harus menilai apakah kalimat itu benar secara tata bahasa. Mereka butuhkan waktu lebih lama untuk memutuskan kebenaran tata bahasa itu jika mereka tidak setuju dengan pernyataannya. Tanpa kita sadari, pendapat kita bisa menyingkirkan respons otomatis kita.

Semua ini menunjukkan bahwa kita memegang erat pendapat kita. Memang benar, tapi bukan berarti pendapat itu tetap bertahan selamanya. Kita lebih mudah berubah daripada yang kita kira.

Kristin Laurin dari Universitas British Columbia meneliti sikap orang sebelum ada larangan penggunaan botol plastik di San Francisco. Banyak yang tak setuju dengan larangan itu, tapi tetap dijalankan. Hanya sehari kemudian, timnya kembali menanyai publik.

Ternyata pendapat publik sudah berubah: orang tidak terlalu menentang. Padahal warga belum punya waktu untuk mengubah perilaku mereka demi menyesuaikan dengan larangan itu. Jadi, nampaknya pola pikir mereka sendiri yang berubah.

Dengan kata lain, kita mencoba lebih memahami hal-hal yang tak bisa kita ubah. Dengan mengatakan hal itu ternyata tidak terlalu buruk, seakan-akan kita melepaskan beban dari otak kita demi melangkah maju. Laurin menyebut ini dengan “sistem kekebalan psikologis”.

Berikutnya, Laurin meneliti pendapat soal larangan merokok di taman dan teras restoran, di Ontario, Kanada pada 2015. Dia menemukan bahwa orang-orang tidak hanya mengubah pendapat mereka setelah pelarangan dimulai, tapi mereka juga mengubah ingatan mereka tentang perilaku mereka sendiri.

Sebelumnya, perokok menyatakan kepada timnya bahwa 15 persen aktivitas merokok mereka dilakukan di tempat-tempat umum ini.

Setelah itu, mereka memperkirakan itu hanya sekitar 8%. Mereka telah menyesuaikan ingatan mereka sendiri, mengubah penilaian untuk meyakinkan diri bahwa efek larangan itu tidak begitu buruk.

Penghitung suara

Kemudian muncul tes terbesar: pandangan tentang Presiden Trump sebelum dan sesudah pelantikannya.

Trump saat ini punya approval rating terendah dari seluruh Presiden AS sejak Perang Dunia II. Anda mungkin menduga ini mencerminkan bahwa orang-orang yang tidak memilih Trump semakin tidak menyukainya setelah dia jadi presiden.

Tapi bukan itu yang terjadi. Tim Laurin menemukan bahwa hanya beberapa hari setelah pelantikan, orang-orang yang sama merasa lebih positif tentang Trump.

Satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa keyakinan mereka akan Trump ditingkatkan karena pidato pengukuhannya. Tetapi menurut Laurin saat bicara kepada BBC di acara All the Mind, bukan itu masalahnya.

“Ternyata, bahkan orang-orang dalam penelitian kami yang mengatakan Trump tampil buruk pada saat pelantikan dan membenci penampilannya, sikap mereka berubah ke arah yang positif.”

“Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pendapat Anda tidak selalu sama seperti ketika suatu aturan ditetapkan. Sebaliknya, “otak Anda berusaha membuat Anda merasa baik-baik saja dan sehingga bisa melanjutkan hidup”.

Kami harus ingat bahwa ini bukan berarti bahwa orang-orang yang tidak tahan dengan Trump menjadi sayang padanya setelah dilantik, tapi setidaknya mereka jadi lebih menyukainya.

Jadi, ini bukan soal orang yang jadi terbiasa dengan situasi baru. Tapi mereka mengubah apa yang mereka pikirkan. Seakan-akan mereka tak sanggup marah terus menerus, jadi mereka tanpa sadar mencari cara untuk meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Menurut Lauren, ini bukan sesuatu yang sengaja dilakukan. Sebaliknya, ini adalah cara untuk melepaskan beban pikiran dan melanjutkan kehidupan. Sederhananya, kita tak punya waktu untuk marah tentang semua hal.

Tentu saja, proses psikologi ini punya beberapa titik gelap dalam sejarah: mendorong orang untuk mentoleransi rezim yang tak mereka setujui.

Dalam situasi yang lebih santai, perubahan dalam pemikiran ini sesuai dengan penelitian sebelumnya tentang dampak bias, yaitu bias kognitif yang membuat kita tak mampu memprediksi reaksi emosional kita tentang peristiwa yang akan datang.

Tim dari Universitas Harvard telah melakukan lusinan eksperimen yang menunjukkan bahwa ketika kita membayangkan suatu kejadian di masa depan, kita mengharapkan yang terburuk dari yang buruk dan terbaik yang baik.

Kenyataannya, kejadian buruk ternyata tidak membuat kita merasa buruk-buruk amat. dan yang baik tidak membuat kita merasa sehebat itu.

Kesulitannya adalah, ketika kita mensimulasikan peristiwa masa depan dalam pikiran kita, kita cenderung hanya mempertimbangkan hal-hal terpenting, dan sebaliknya, untuk hal buruk, kita mempertimbangkan hal terburuk.

Pergi ke dokter untuk tes laboratorium mungkin memang tidak menyenangkan, tapi bukan berarti semua kejadian tidak menyenangkan. Ada juga yang netral, misalnya saat membaca majalah di ruang tunggu.

Dan sementara kita membayangkan sesuatu yang buruk terjadi tanpa kita bisa atasi, atau hal baik mengubah seluruh hidup kita, kenyataannya kita akan tetap menjadi diri kita yang sekarang.

Setelah emosi awal, perasaan kita akan mereda dan kita hanya akan merasa sedikit lebih baik atau buruk daripada sekarang. Hal yang sama terjadi jika kita dipengaruhi oleh kebijakan atau situasi yang tidak kita sukai. Jika mungkin, kita akan berdamai dengan hal yang tadinya kita lihat sebagai perubahan negatif.

Di satu sisi ini sesuatu yang penuh harapan: kita berusaha mencari yang terbaik dalam setiap situasi. Tetapi apakah ini berarti bahwa pembuat kebijakan bisa berbuat sesukanya dan kita semua mengiyakan?

Bukan begitu. Jika demikian, maka pemerintah tak akan pernah diganti atau digulingkan dalam revolusi.

Kita mungkin berusaha merasionalisasi hal-hal yang sulit diubah, tetapi setelah massa yang kritis mendorong gagasan, orang akan berhenti mencari pembenaran untuk status quo. Mereka akan merasa bahwa beramai-ramai. mereka bisa membuat perubahan dan mulai menyuarakan perubahan.

Tapi ketika kita tidak bisa mengubah segalanya, berdamai dengan dunia mungkin akan menjadi bagian penting dari kewarasan kita.[]Sumber:bbc

Baca juga: