Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaOpiniAmbruknya Jembatan Lalla...

Ambruknya Jembatan Lalla Simeulue dan Derita Masyarakat

Oleh Hasan Syahadat, warga terdampak ambruknya Jembatan Lalla

Berbincang di warung kopi biasanya terasa penuh semangat diiringi canda dan tawa sambil menyeruput kopi. Banyak hal yang dapat didiskusikan masyarakat terkait perkembangan ekonomi, sosial, dan politik. Termasuk soal sosok calon legislatif dan peluang mereka yang akan merebut suara rakyat pada Pemilu 2024 mendatang.

Akan tetapi, bagi masyarakat Kecamatan Salang dan Alafan, Kabupaten Simeulue, suasana bahagia dan riang gembira di warung kopi kini seakan hilang berubah menjadi kesedihan dalam beberapa bulan terakhir. Tepatnya setelah ambruknya jembatan di Desa Lalla, Kecamatan Salang, yang sampai sekarang belum diperbaiki.

Saya sebagai warga yang ikut terdampak akibat ambruknya jembatan itu turut sedih dan prihatin. Pasalnya, dampak tersebut menjadi kesedihan berlarut-larut yang tengah dialami warga dua kecamatan itu. Padahal, material badan jembatan sudah didatangkan oleh dinas terkait ke lokasi Jembatan Lalla. Namun, jembatan tersebut tak kunjung diperbaiki, sehingga peralatan yang sudah ada di lapangan hanya menjadi tontonan warga.

Kapan dipasang atau diperbaiki? Sudah ada alatnya, apa kendalanya? Begitu pertanyaan masyarakat yang terdampak ambruknya jembatan tersebut.

Masyarakat termasuk saya turut hadir menyambut Pj. Bupati Simeulue dan anggota DPRA yang mendatangi lokasi jembatan ambruk itu. Saat itu kami merasa sangat senang dan penuh harap bahwa setelah disaksikan langsung oleh pemimpin kami, jembatan tersebut akan segera diperbaiki.

Akan tetapi, hari demi hari hingga bulan berganti, belum juga ada tanda-tanda pekerjaan jembatan itu dilaksanakan.

[Jembatan Lalla di Kecamatan Salang, Simeulue, ambruk. Foto kiriman Hasan Syahadat]

Berbagai upaya sudah dilakukan masyarakat, termasuk DPK Apdesi Kecamatan Salang dan Camat Salang, menggalang dukungan untuk mengambil simpati semua pihak. Sebab, hampir tiga bulan lamanya, bukan hanya dampak terputusnya akses transportasi menuju Sinabang. Dampak ekonomi, sosial, dan pelayanan publik turut kami alami sampai saat ini.

Di antaranya, harga komoditas hasil bumi dua kecamatan tersebut anjlok. Harga TBS sawit saat ini hanya Rp800/kg, sebelumya tembus Rp1.300/kg. Di sisi lain, minyak eceran dari Rp12.000 menjadi Rp14.000/liter. Begitu juga harga barang-barang kebutuhan pokok lainnya melambung tinggi.

Dari segi pelayan publik, dua kecamatan ini tidak dapat dilalui ambulans yang ingin membawa pasien dirujuk ke Sinabang, melahirkan ke Puskesmas hingga pernah diantar menggunakan becak motor. Belum lagi pasien sakit parah harus diangkat oleh warga Desa Lalla untuk melewati jembatan darurat dan rakit darurat.

Usaha batu bata, usaha pendistribusian hasil laut, hasil bumi dan pelaku usaha mikro kecil menengah mesti bongkar muat di lokasi jembatan ambruk, dan membutuhkan bantuan tenaga orang lain. Siklus inilah yang menyebabkan kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Sementara harga komoditas hasil bumi dan laut anjlok.

Semua kejadian ini hampir tiga bulan lamanya dialami masyarakat dua kecamatan tersebut. Setiap hari kondisi itu menjadi bahan diskusi dengan nada kesedihan yang mendalam bagi masyarakat sembari bermohon. Hal itu diungkapkan di warung kopi, komunitas, rumah, dan di tengah pusat keramaian.

Bersyukur, dari kejadian ini sebagai aksi kemanusiaan secara swadaya warga Desa Lalla telah menyediakan satu rakit sambung terbuat dari papan dan bambu. Namun, rakit darurat itu hanya dapat dilalui kendaraan roda dua dan becak motor. Itupun harus 24 jam warga stand by di lokasi rakit darurat untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Sedihnya lagi rakit sambung tersebut kini butuh perbaikan akibat lamanya digunakan di permukaan air sungai.

Masyarakat berharap kondisi ini bisa secepatnya berakhir. Bukan berarti kami tidak siap menerima cobaan. Akan tetapi, inilah yang kami rasakan pascabencana tersebut. Masyarakat hanya ingin badan jembatan yang sudah didatangkan oleh dinas terkait dapat segera dipasang agar akses transportasi kembali normal.
Semoga![]

Baca juga: