BerandaOpiniMerokok Bukanlah Solusi

Merokok Bukanlah Solusi

Populer

Oleh Zulkifli, S.Pd.I., M.Pd., Guru MTsN 6 Aceh Utara

Merokok merupakan salah satu kegiatan rutinitas yang mayoritas dilakukan kaum Adam sekarang ini, baik ketika sendiri atau pun sedang berkumpul bersama teman. Mereka tidak pernah memilah dan memilih tempat, di rumah, dalam bus, tempat kerja, masjid, tempat pendidikan, apalagi di kafe-kafe tempat berkumpul berbagai lapisan masyarakat dengan tingkat umur berbeda.

Tingkat persentase perokok berat di Aceh dari umur ≥ 15 tahun tahun 2020 adalah 28,06 persen, tahun 2021 adalah 28,30 persen dan tahun 2022 adalah 27,58 persen (Badan Pusat Statistik – BPS). Walau pada tahun 2022, persentase sedikit menurun, yaitu turun 0,48 persen dibandingkan dengan tahun 2020 dan turun 0,72 persen dibandingkan tahun 2021. Namun ini masih persentase yang rawan dan belum lagi perokok pasif.

Bahkan temuan survei Global Adult Tobacco Survey (GATS) tentang penggunaan tembakau pada usia dewasa yang dilakukan pada tahun 2011 kemudian diulang pada tahun 2021 dengan melibatkan 9.156 responden menulis bahwa perokok dewasa di Indonesia naik 10 tahun terakhir, seperti dilansir situs web Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. “Dalam temuannya, selama kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta orang, yaitu 60,3 juta pada tahun tahun 2011 menjadi 69,1 juta perokok pada tahun 2021” (Dinas Kesehatan Provinsi Aceh).

Kecanduan seseorang kepada rokok merupakan dari hasil coba-coba atau sekadar iseng saja. Awal dari kejenuhan yang tidak tahu harus melakukan apa, kemudian mencoba merokok atau awal dari pertemanan yang ingin terlihat gaul, dari sodoran sebatang rokok dari teman yang akhirnya menjadi pecandu. Secara perlahan berjalan waktu, rokok tersebut menjadi kebutuhan, bahkan kebutuhan paling utama dalam kehidupan, sehingga rela berutang demi memenuhi hasrat untuk mendapatkan asap dari tembakau tersebut.

Ketika rokok telah menjadi candu, disinilah banyak bahasa risih yang dikeluarkan oleh perokok, bahkan mencari celah hukum makruf agar rokok masih tetap bisa dikonsumsi tanpa rasa bersalah. Padahal kalau melihat literatur ilmiah tentang pendapat makruh merokok adalah rokok dari tembakau murni yang belum dicampur dengan bahan kimia yang berbahaya, atau dengan istilah rokok pada jaman dulu yaitu jaman saat lahirnya fatwa makruh, bukan rokok yang telah ditulis di bungkusannya “Merokok Dapat Membunuhmu”.

Sebab Seseorang Merokok

Ketergantungan seseorang terhadap rokok yang menyebabkan kecanduan yang luar biasa adalah hasil coba-coba merokok dan keingintahuan bagaimana rasa rokok itu, juga dari ajakan teman, dari sebatang berpindah ke batang yang lain hingga menjadi bungkus ke bungkus, dari satu merek rokok ke merek lain, sehingga merasa nyaman dan rasa luar biasa dari merek rokok yang sesuai dengan keinginan seseorang.

Mencari jati diri dari merokok juga merupakan sebab seseorang kecanduan rokok, ini biasanya bagi umur remaja. Merasa tidak gentleman atau pun seolah bukanlah lelaki bila tidak merokok menyebabkan remaja terjatuh dan terjebak dalam kecanduan. Bahkan bahasa “waria saja merokok” di kalangan remaja telah membuat remaja tersebut secara tidak sadar terhipnotis dengan rokok.

Zat kimia yang menyebabkan seseorang merasa tidak ingin lepas dari rokok adalah nikotin. Nikotin di dalam rokok akan menimbulkan kecanduan bagi pengisapnya sehingga apabila tidak merokok akan merasa gangguan kegelisahan, berkeringat dingin, sakit perut, dan lainnya. Ketika telah merokok dan nikotin menyentuh otak lagi, barulah merasa senang dan dapat berkonsentrasi. Maka dari sini lahirlah ucapan “lebih baik tidak makan daripada tidak merokok”.

Lebih baik bagi yang belum pernah menyentuh rokok untuk tidak pernah mecoba merokok walau sekali isap saja, karena konsekuensi dari kenangan isapan pertama bisa menjadi malapetaka sebagai perokok aktif, bahkan lebih mengutamakan kebutuhan rokok dari kebutuhan keluarga.

Kenapa Mesti Berhenti Merokok?

Berhentinya seseorang dari merokok merupakan solusi dalam menjalani kehidupan yang sehat, berwibawa dan tsiqah.

Di dalam rokok mengandung ribuan zat-zat kimia yang sangat berbahaya kepada kita, dan ini bukanlah mitos, namun pengakuan dan penelitian dari pakar-pakar kesehatan yang membuktikannya. Perokok baru merasakan akibat nikotin tembakau itu, bila sejak usia 18 tahun mulai merokok sampai umur di atas 40 tahun, baru penyakit dideritanya mencapai medium empat (kronis). (Widyastuti Soerojo, MSc).

Sehat, karena didalam rokok terdiri dari ribuan zat kimia yang sangat berbahaya terhadap kesehatan, yaitu karbon monoksida, nikotin, tar, hidrogen sianida, benzena, formaldehida, arsenik, kadmium, amonia dan lainnya (Kementerian Kesehatan – Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan).

Karbon monoksida adalah gas beracun yang tidak memiliki rasa dan bau yang dapat menyebabkan sel-sel darah merah akan lebih banyak berikatan dengan karbon monoksida dibandingkan oksigen. Hal ini akan menyebabkan fungsi otot dan jantung akan menurun, ini berefek kepada kelelahan, lemas dan pusing yang berisiko meninggal.

Nikotin yaitu efek candu, berfungsi sebagai perantara dalam sistem saraf otak yang menyebabkan berbagai reaksi, termasuk efek menyenangkan dan menenangkan. Nikotin yang diisap akan terserap masuk ke aliran darah, kemudian merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin, sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah, denyut jantung dan pernafasan.

Tar yaitu zat yang bersifat karsinogenik, apabila dikonsumsi dapat mengendap di paru-paru. Timbunan ini berisiko tinggi menyebabkan penyakit pada paru-paru.

Hidrogen sianida merupakan senyawa racun lain yang dimasukkan dalam rokok. Senyawa ini bisa mencegah tubuh menggunakan oksigen dengan baik dan dapat membahayakan otak, jantung, pembuluh darah dan paru-paru.

Benzena merupakan residu dari pembakaran rokok. Paparan benzena dalam jangka panjang dapat menurunkan jumlah sel darah merah dan merusak sum-sum tulang.

Formaldehida merupakan residu dari pembakaran rokok, ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan.

Arsenik merupakan golongan pertama karsinogen, paparan terhadap orsenik tingkat tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker kulit, kanker paru-paru, kanker saluran kemih, kanker ginjal dan kanker hati.

Kadmium merupakan logam bivalen yang lunak yang dapat masuk ke paru-paru. Kadar kadmium yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan muntah, diare, penyakit ginjal, tulang rapuh dan meningkatkan risiko kanker paru-paru.

Amonia merupakan gas beracun yang tidak berwarna namun berbau tajam. Terpapar amonia dalam jangka pendek dapat mengakibatkan nafas pendek, sesak nafas, iritasi mata dan sakit tenggorokan.

Merokok dapat juga membuat wibawa seseorang menjadi rendah di sisi orang yang tidak merokok. Coba bayangkan ketika seorang santri merokok di depan gurunya, anak-anak merokok di depan orang tuanya atau asyik merokok ketika seseorang sedang mengajar, ceramah atau kajian lainnya. Maka fenomena ini menggambarkan tidak ada wibawa dan hilangnya tsiqah.

Kiat Berhenti Merokok dari Pengalaman Pribadi

Dari sekian banyak perokok yang sudah kecanduan, ada juga yang berkeinginan untuk berhenti merokok dan telah beberapa kali mencoba untuk berhenti, namun ujung-ujungnya tetap terjebak dalam perokok aktif.

Maka saya akan menulis beberapa kiat berhenti merokok yang sudah saya lakukan dan ini merupakan pengalaman pribadi saya.

Saya merupakan mantan perokok aktif sejak tahun 1998 saat masih mondok di Dayah Malikussaleh Panton Labu, Aceh Utara sampai dengan tahun 2010 pascakonflik Aceh. Rokok ketika itu saya anggap sebuah solusi saat ada suatu masalah yang mengganjal di pikiran atau ketika otak sedang down untuk berpikir.

Pada tahun 1998 sampai 2000, saya hanya merokok sesudah makan atau sebagai teman ngopi, dan sekali-kali kami merokok saat pengajian saat merasa otak kurang berjalan. Saya menghabiskan rokok sekitar satu bungkus sehari, terkadang bisa bertahan sampai tiga hari.

Namun tahun setelah itu menjadi pecandu berat, dalam sehari menghabiskan tiga atau empat bungkus rokok filter dan dua sampai tiga bungkus rokok keretek. Bahkan pada tahap ini, saat saya mengajar kitab di bale dengan waktu satu jam setengah sampai dua jam, saya menghabiskan rokok satu bungkus atau satu bungkus setengah, menurut kerumitan pikiran yang terkuras.

Tahap inilah saya benar-benar merasa sangat tergantung dengan rokok, jalannya pikiran dengan adanya rokok. Pernah suatu ketika saat mengajar suatu kitab dan saya mendapatkan suatu kerumitan dalam mensyarah kalimat perkalimat dalam ibarah kitab tersebut dan kebetulan saat itu saya tidak memiliki rokok, sejurus kemudian saya membeli rokok dan ketika rokok sudah saya bakar sehingga isapan pertama benar-benar kejadian aneh, pikiran saya yang sedang buntu tiba-tiba kerumitan kalimat-kalimat kitab tersebut terselesaikan. Menyala api rokok saat diisap begitu juga terbukanya maklum yang dalam diri saya. Begitulah candu yang saya rasakan ketika itu.

Tahun 2010, saya berkeinginan untuk berhenti merokok, disebabkan beberapa pertimbangan. Saat itu anak pertama saya Daniel Alqadafi sudah berumur dua tahun, tahun-tahun inilah saatnya anak-anak akan mencontohi apa yang dilakukan oleh orang tuanya, mencontohi orang tuanya saat beribadah, ucapan kata dan perbuatan lainnya.

Oktober 2010 saya berangkat prajabatan di Balai Diklat Keagamaan Kota Medan, pas saat bulan Ramadhan ketika itu. Saat akan berangkat saya membeli lima bungkus rokok yang setiap selesai berbuka puasa saya mengisap beberapa batang rokok dengan tidak menelan asapnya, ya sekadar asap di mulut kemudian saya keluarkan dan dengan penuh ketersiksaan saya tidak pernah merokok sesudah makan sahur.

Lima bungkus rokok yang saya beli ketika itu hanya bertahan sekitar lima atau enam hari. Setelah rokok itu habis semuanya saya menahan diri dengan melawan nafsu ingin merokok dan iya tidak akan saya beli rokok lagi ketika itu. Sehingga sampai detik ini mampu saya tahan untuk tidak merokok, walau setelah makan, ngopi dan konsumsi sirih. Namun ketika itu mulut saya masih juga belum bersahabat dan ingin setelah makan ada rokok yang saya isap.

Dari tekad bulat berhenti merokok ketika itulah, sampai dengan detik ini saya tidak merokok lagi, ya sekitar 13 tahunlah sudah berhenti merokok. Walau pada tahun 2017 saya diuji dengan sakit kehilangan keseimbangan (vertigo) dan anehnya ada kawan yang menyarankan saya untuk kembali merokok agar sembuh katanya, namun saya menanam dalam hati untuk tidak merokok lagi dengan konsekuensi apa pun.

Maka kiat yang paling penting dan sangat ampuh untuk tidak merokok lagi adalah dari diri kita, seberapa besar keinginan untuk tidak menyentuh rokok lagi maka sebesar itulah kesanggupan kita untuk melepaskan diri dari belenggu candu rokok.

Karena bila keinginan kita masih setengah-setengah maka kita tidak akan bisa melepaskan diri dari kecanduan rokok, sebab tidak ada suatu contoh pun yang dapat kita contohkan untuk meninggalkan rokok.

Kalau kita katakan rokok itu melanggar peraturan maka penegak hukum juga merokok, kalau kita katakan merokok itu merusak kesehatan maka orang-orang di dinas kesehatan juga merokok, kalau kita katakan merokok itu haram maka para penfatwa hukum juga merokok, kalau kita katakan merokok itu tidak baik dan tidak tsiqah maka para ustaz juga merokok dan kalau kita katakan rokok itu tidak beradab maka di rumah para orang tua juga merokok. Jadi tidak ada suatu alasan pun yang mampu kita berikan kepada generasi agar tidak merokok.

Satu-satunya alasan untuk tidak merokok adalah dengan jangan pernah menyentuh rokok walau sekali isap dan satu-satunya cara berhenti merokok adalah dengan cara membangun tekad bulat di dalam diri untuk tidak lagi menyentuh rokok.

Berhentilah merokok, karena tidak ada suatu manfaat pun yang dihasilkan oleh rokok. Tinggalkanlah kemudharatan walau kemudharatan itu sangat kecil dampaknya. Berhentilah membuang-buang uang untuk membeli rokok karena masih ada keluarga di rumah yang menunggu nafkah yang diberikan.

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Baqarah: 195).

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Jangan pernah berbuat kemudharatan (kepada diri sendiri) dan jangan pernah berbuat kemudharatan (kepada orang lain)” (HR. Ibnu Majah).[]

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya