Oleh Taufik Sentana*

Pada awalnya kata “anak” disini ingin kita batasi dalam rentang usia yang rawan saja Katakan dari usia dua hingga 5 tahun. Namun bila kita telisik dari segi “ketagihan” yang disebabkan Gejet/gawai (smart phone dsb), kata ” anak” di atas adalah mereka yang dalam usia sekolah dan remaja.

Kenapa dengan usia 5 tahun?, itu merupakan usia awal anak dalam bersosialisasi dan menggunakan bahasa  sebagai simbol interaksi. Dari bahasa akan muncul perhatian, empati, pengakuan dan rasa percaya diri.

Keterhanyutan anak akan HP dan bahkan ketagihan terhadap fitur dan programnya, akan berdampak pada sikap sosial si anak di kemudian hari.

Sedangkan pada usia remaja, dampak HP tadi akan kentara pada pola pemanfaatannya, perubahan prilaku belajar dan bahkan kesehatan fisik. Pada usia ini mereka belum sanggup memfilter hal negatif yang mungkin bisa mereka akses. Atau mudahnya mereka terbujuk oleh serangkaian interaksi berbasis dunia maya. Apalagi bila orang tua lalai dalam pengawasan dan bimbingan. Lebih parah lagi bila orang tua mereka tidak melek teknologi (gaptek, gagap teknologi).

Dari pengamatan pribadi saja, berdasarkan informasi teman  dan pengamatan langsung, ada beberapa kasus yang memprihatinkan.  Seperti sikap sosial dari seorang anak balita, dimana ia agak sulit mengutarakan maksudnya, cuek terhadap lingkungan sekitar dan kurangnya  respon spontanitas. Seorang dokter juga ada mengisahkan tentang pasiennya seusia kelas empat SD dengan keluhan mata yang selalu berkedip-kedip. Dari wali murid juga ada laporan tentang penurunan kesehatan anaknya (gangguan hidung) karena ketagihan ber-HP, bahkan saat jelang tidur malam.

Perlu batasan, komitmen dan pengawasan

Dalam hal ini, sangat tidak mungkin meniadakan sama sekali interaksi HP bagi anak, sementara ia selalu melihat orang dewasa (orang tuanya) ber-HP. Maka sangat penting batasan waktu dan program yang diakses. Beberapa litetatur menyebutkan batas waktu hingga maksimal dua jam (dengan jeda) perhari bagi remaja, ini sudah termasuk menyaksikan acara televisi. Sebagian dari orang tua yang terpelajar”, ada yang memberikan akses HP hanya di hari sabtu atau ahad, dengan durasi yang sedikit dan komitmen tertentu.

Jadi, untuk usia balita (juga usia SD) tentu lebih sehat dan baik bila interaksinya hanya sekitar satu jam perhari (dengan jeda). Untuk anak usia ini, orang tua juga dianjurkan agar membangun dialog tentang konten yang diakses si anak, sehingga ia terbiasa mengungkapkan diri dan menyampaikan pendapat.

Sedangkan untuk usia remaja, SMP-SMA, diperlukan komitmen dan pengawasan tertentu. Misal, komitmen terhadap kapan saja waktu ber-HP, tidak saat makan bersama, tidak di atas kasur jelang tidur, tidak merahasiakan kata sandi dsb. Boleh juga diberikan sanksi bila ada komitmen yang dilanggar. Dan sangat baik bila kepemilikan HP hanya diberikan oleh Orang tua saat anaknya berusia 13-15 tahun.

Demikianlah sekelumit tentang ketagihan ber-HP pada yang anak yang perlu perhatian kita bersama. Sebab, dikisahkan pula oleh salah satu media nasional, efek ketagihan ber-HP ini dan menikmati layanannnya bisa menyebabkan si pengguna (anak) menghantuk-hantukkan kepalanya ke dinding bila belum kesampaian, hingga memerlukan perawatan khusus psikiater anak.[]

*Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam.