WARDIAH duduk di lantai kamarnya dikelilingi sanak keluarga. Wajah sedihnya menyiratkan duka mendalam yang kini ia rasakan. Ia menatap kosong ke depan. Sesekali terlihat ia menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Mata wanita berusia 41 tahun itu terlihat memerah dan sembab karena menangis.
Wardiah merupakan ibu kandung Fery Ardian, 25 tahun, warga Keude Paya Bakong, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Fery ditembak mati di Bandar Lampung lantaran diduga menjadi bandar narkoba, Kamis, 26 Januari 2017, malam. Polisi menyebut Fery dan seorang tersangka lainnya Zamzana tewas saat baku tembak.
(Baca: Wakapolda Lampung: Dua Bandar Narkoba Ditembak Mati Warga Aceh)
Wardiah menyambut baik saat portalsatu.com/ berkunjung ke rumahnya, Sabtu, 28 Januari 2017, siang. Sambutan baik juga terlihat dari anggota keluarganya yang ada di rumah duka.
“Weuh that ate lon, baro 15 uroe jibeurangkat dijak mita raseuki. Hana mungken aneuk lon bandar narkoba lage dipeugah bak beurita. Hana mungken na baku tembak, hana mungken aneuk lon na beude, pat dicok. Hantom lon eu beude sajan jih (sedih sekali hati saya, baru 15 hari ia pergi mencari rezeki. Tidak mungkin anak saya bandar narkoba seperti yang dikatakan dalam berita. Tidak mungkin ada baku tembak, tidak mungkin anak saya punya senjata, dari mana dia ambil. Tidak pernah saya lihat senjata sama anak saya),” kata-kata itu keluar dari mulut Wardiah yang meratapi nasib putranya.
Wardiah melanjutkan, jika memang anaknya terlibat sebagai bandar narkoba, pastilah hidupnya kini bergelimang harta. Tanpa perlu bersusah payah berjualan nasi, apalagi berutang sampai menggadaikan kedai tuanya, yang juga digunakan sebagai tempat tinggal.
“Keude nyoe ka tujoh thon lon gade bak gob Rp3,5 juta, hana peng ngon bayeu. Meunyoe memang aneuk lon nyan buet ih, pasti dibantu mak jih. Lom pih jih diteupue masalah gade keude. Ka padup go dilake peng le ureung nyan lon gade keude, tapi hana peng, kiban tapeuget (kedai ini sudah tujuh tahun saya gadaikan sama orang Rp3,5 juta, tidak ada uang untuk membayar. Jika memang anak saya itu kerjanya, pasti ia membantu ibunya. Lagi pula ia juga tahu masalah gadaikan kedai. Sudah beberapa kali pemberi pinjaman meminta uang, tapi tidak ada duit, apa yang bisa diperbuat),” ujar Wardiah.
Sebagai seorang ibu, Wardiah mengaku sangat sedih atas kehilangan putra pertamanya secara tiba-tiba, dengan cara yang tak biasa. Selama ini, saat di kampung, Fery membantu dirinya memenuhi kebutuhan keluarga. Mulai dari membantu berjualan nasi hingga menjaga lapak PlayStation (PS) di kedai.
“Fery anak tertua Wardiah, yang kedua sudah lulus SMA, yang ketiga kelas II SMA, keempat kelas III SMP dan terakhir usia lima tahun. Fery sangat baik dan santun, wajahnya sama persis dengan adiknya yang telah lulus SMA. Hanya saja ukuran tubuh Fery sedikit lebih kecil dari adiknya,” ucap Makcik Wardiah yang mendampingi Wardiah.
“Han mungken abang na beude, cukop get akai abang lon (tidak mungkin abang saya punya senjata, sangat baik abang saya),” timpal adik perempuan Fery yang duduk di bangku kelas III SMP, sambil menangis sesegukan.
(Baca juga: Kata Geuchik Soal Warganya Ditembak Mati di Lampung)
Baik Wardiah maupun sanak keluarga lainnya, saat ini hanya berharap jasad Fery Ardian dapat segera tiba di rumah, sehingga dapat dimakamkan secara layak.
“Jinoe siat hana lon tu’oh peugah. Kamoe teungoh meupreh jenazah dipuwoe (untuk saat ini saya tidak tahu mau bilang apa. Kami masih menunggu jasadnya tiba),” ujar Wardiah terisak-isak.[]


