SUBULUSSALAM – Sejumlah desa yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Lae Souraya mulai dari Sultan Daulat, Rundeng dan Longkib, Kota Subulussalam kerap dilanda banjir. 

Banjir terjadi bisa saja akibat curah hujan yang tinggi di wilayah Kota Subulussalam dan sekitarnya, bisa juga banjir kiriman dari Aceh Tenggara menyebabkan Lae Souraya meluap ke pemukiman penduduk yang tinggal di bantaran Lae Souraya.

Dalam tahun ini diperkirakan ada tiga atau empat kali banjir merendam permukiman penduduk di Sultan Daulat, Rundeng dan Longkib.

(Banjir di Rundeng)

Bahkan banjir menggenangi pemukiman hingga berminggu-minggu menyebabkan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak bisa maksimal bekerja. Bantuan sembako pun tidak diperoleh. Kondisi mendapat perhatian dari Anggota DPRK Kota Subulussalam, Bahagia Maha.

“Ada beberapa kampong sampai saat ini masih terendam akibat banjirnya  Lae Souraya. Bahkan dalam tahun 2020 ini sudah 3 sampai 4 kali bencana banjir itu datang  melanda masyarakat yang bermukim di sana.  Bahkan sampai berminggu-minggu banjirnya baru surut,” kata Anggota DPRK Subulussalam dapil Rundeng, Bahagia Maha dalam siaran persnya kepada portalsatu.com, Senin, 21 Desember 2020.

Bahagia Maha mengaku prihatin atas musibah banjir yang sering melanda sejumlah desa di bantaran Lae Souraya. Meski berkali-kali permukiman masyarakat di sana terendam banjir, masyarakat mengaku tidak mendapatkan bantuan sembako.

Menurut Bahagia Maha, seharusnya BPBD dan Dinas Sosial Kota Subulussalam harus merespon kondisi ini secepatnya mungkin dengan memberikan bantuan paket sembako kepada masyarakat  di bantaran Lae Souraya yang acap kali terdampak banjir. 

“Seharusnya dinas sosial dan BPBD sudah harus turun ke lapangan  memberikan bantuan berupa paket sembako untuk menyambung ketersediaan pangan bagi mereka yang terdampak banjir,” ungkap politikus PAN Kota Subulussalam ini.[]