ACEH BESAR – Anggota Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menemukan satu benda yang diyakini peluru meriam (cannonball) di Kuala Gigieng, Aceh Besar, 2 September 2018, sore.
“Peluru meriam ini beratnya sekitar 8-10 Kg,” kata anggota Mapesa, Hasan, di Aceh Besar, Senin, 4 September 2018.
Hasan menjelaskan, peluru meriam dari jenis tanpa menggunakan pemicu tersebut ditemukannya di kedalaman 35-40 cm dari permukaan tanah di hamparan tanah kosong di Kuala Gigieng.
Menurut Hasan, setelah tsunami menyapu pantai, peluru-peluru meriam sering ditemukan di seputaran Alue Naga.
“Dahulu sebelum tsunami, ketika ayah kami ke laut sering juga ditemukan peluru-peluru meriam tersangkut di jaringnya. Karena mengetahui itu adalah peluru meriam, kemudian dibuang kembali ke laut,” kata Hasan.
Hasan belum dapat memastikan apakah peluru meriam itu peninggalan era Kesultanan Aceh Darussalam atau masa penjajahan Belanda.
Sebelumnya, Hasan sudah mengumpulkan sekitar sekarung pecahan-pecahan meriam. Temuannya tersebut akan ditempatkan di penyimpanan benda-benda peninggalan sejarah di Sekretariat Mapesa.
“Benda-benda tersebut tidak bisa kita ukur dengan angka timbangan kilogram untuk dijual karena nilai sejarah yang dikandung benda tersebut adalah harga dari sebuah peradaban,” katan Hasan.
Hasan berharap masyarakat Aceh yang menemukan benda-benda bersejarah tidak lagi menjualnya kepada kolektor barang antik untuk mendapatkan sejumlah uang.[]



