Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*

Belum lama ini BPS merilis angka kemiskinan se-Indonesia, dan Aceh kembali mendapat predikat sebagai daerah termiskin di Sumatera dengan persentase penduduk miskin 15,53% atau 850.260 jiwa. Angka ini juga menempatkan Aceh menjadi provinsi kelima termiskin di Indonesia, di bawah Papua, Papua Barat, NTT, dan Maluku secara berurut. Ini adalah data perbulan September 2021 yang diumumkan BPS pada 2 Februari 2022.

Kondisi ini menjadi lebih “panas” karena penduduk miskin di Aceh bertambah 16.020 jiwa dibandingkan pada Maret 2021 dengan jumlah 834.240 jiwa atau 15,33%. Angka kemiskinan terlihat terus menanjak dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2020 lalu jumlah orang miskin tercatat 814.91 ribu jiwa pada Maret, dan mengalami peningkatan menjadi 833.91 ribu jiwa pada September tahun yang sama. Terjadi penambahan sebanyak 19 ribu orang. Data lebih detail ini bisa diakses di web resmi BPS Aceh (aceh.bps.go.id).

Kembali menjadi daerah termiskin baik skala regional maupun secara nasional membuat sejumlah pihak merasa berang dan seperti “dipermalukan”. BPS sudah mengemukakan beberapa alasan mengapa Aceh masih bertahan sebagai daerah termiskin, namun—perasaan—masyarakat tetap saja menolak. Sepertinya lebih baik tak di-publish meskipun kondisinya bisa lebih buruk, daripada harus menanggung malu dikatakan orang termiskin.

Tak terima kenyataan, orang-orang mulai mencari kambing hitamnya. Dalam hal ini, pucuk pimpinan dan jajarannya menjadi sasaran empuk. Dianggap kebijakannya gagal dalam menangani dan menanggulangi kemiskinan. Pemerintah dipandang tidak becus dan tak serius mengurus rakyatnya. Padahal dengan dana otonomi khusus berjumlah triliunan rupiah seharusnya bisa membuat Aceh jauh lebih baik, meskipun tak mesti menjadi nomor wahid. Pihak lain memandang, pemerintah bukan satu-satunya faktor, bagi mereka justru masyarakat miskin itu sendiri yang bermasalah.

Miskin Sebagai Sebuah Stigma

Tulisan ini bukan untuk mencari siapa aktor di balik “tragedi” ini, apalagi ingin menyalahkan. Kepedulian penulis malah tertuju pada cara pandang banyak orang tentang miskin yang sangat pragmatis. Miskin dimaknai sebagai status kehidupan terendah dan hina, plus memalukan. Orang Aceh malu jika katahuan dirinya atau keluarganya miskin. Sehingga ada ungkapan berbunyi, “som gasien peudeuh kaya” (sembunyikan miskin, tampakkan kaya).

Tidak dipungkiri bahwa hidup dengan berbagai kekurangan merupakan musuh bagi semua, tak terkecuali orang Aceh. Tetapi pertanyaannya adalah mengapa seseorang harus risih dengan kondisi tersebut saat dia memang benar-benar serba kekurangan. Itulah barangkali yang menyebabkan sebagian orang mencari harta bukan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, melainkan agar dipandang mulia dan terhormat, tak kira halal atau haram. Ungkapan lain menyebutkan, “menye kaya mulia bak wareh, menye gasien meukuwien lam tapeeh” (apabila kaya kita dimuliakan, jika miskin kita diabaikan).

Hadih maja (ungkapan) di atas barangkali tidak hanya berkembang dalam masyarakat Aceh, tetapi di semua tempat tampaknya sama, orang kaya di mana-mana dimuliakan. Akan tetapi, dalam Islam memuliakan seseorang semata-mata karena hartanya dianggap bagian dari budaya jahiliyah. Di mana pada masa itu seseorang dipandang mulia karena memiliki banyak harta dan gemar berbagi. Konsekuensinya orang miskin menjadi komunitas yang termarginalkan dan hina. Mereka dianggap makhluk rendahan yang hidup untuk berkhidmat kepada orang kaya.

Gambaran dikotomi dua kelas sosial ini bisa dibaca dalam banyak ayat al-Quran, semisal al-An’am 52 – 53, al-Kahfi 28 dan lain-lain. Karena itu Islam dengan spirit kesetaraan melakukan dekonstruksi atas makna mulia (karam), dari yang semula karena harta (materil) berubah menjadi yang bertakwa (sprituil). Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia (akram) di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”, (al-Hujurat: 13).

Dalam Islam, kemuliaan itu dilihat dari akhlak dan kepribadian seseorang, bukan dari harta, ditambah yang menilainya hanya Allah. Kenyataan ini menuntut semua orang untuk saling memuliakan dan bersikap rendah hati. Karena hanya Allah yang tahu siapa yang paling mulia. Allah berfirman, “maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa”, (an-Najam: 32).

Berbeda dengan konsep jahiliyah yang menjadikan materi sebagai indikator utama kemuliaan seseorang. Padahal inilah biang kerok penyebab seseorang bersikap rasis dan congkak atas yang lain. Lihatlah penuturan Iblis ketika enggan sujud kepada Adam, “Aku lebih baik dari dia, karena Engkau ciptakan aku dari api, sementara dia dari tanah”, (al-A’raf: 12). Allah mengusir Iblis dengan firman-Nya, “Turunlah kamu dari surga itu; karena tidak pantas bagimu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina“, (al-A’raf: 13). Iblis menjadi hina saat dirinya merasa mulia.

Tidak dinafikan bahwa Islam selalu mengajak dan mengajarkan umatnya untuk bekerja dan berusaha, tidak berpangku tangan, baik lewat ayat-ayat al-Quran atau Sunnah Nabi. Tetapi ketika seseorang kemudian harus hidup dalam keadaan serba kekurangan itu bukanlah pertanda buruk. Toh pada akhirnya dunia ini tetap dihuni oleh sikaya dan simiskin, antara orang berada dan papa.

Allah berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”, (Az-Zukhruf: 32).

Kosong Perut atau Kosong Dada

Ada sebuah cerita menarik yang melatarbelakangi turunnya ayat 197 surah al-Baqarah, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. Di sana ada sekelompok orang dari Yaman pergi beribadah ke Mekkah di musim haji tanpa membawa bekal makanan, akibatnya sampai di Mekkah mereka kelaparan. Allah kemudian menegur kejadian tersebut dengan menurunkan ayat di atas.

Ada riwayat menyebutkan, mereka beralasan, “takkan mungkin Allah membiarkan kami kelaparan saat berada di dekat rumah-Nya (Ka’bah), manakala ketika kami jauh di Yaman selalu dalam keadaan berkecukupan”. Alasan mereka tidak bisa mengubah sunnatullah (hukum alam), bahwa yang tidak makan akan kelaparan. Mereka kemudian memutuskan untuk meminta-minta, bahkan ada yang memeras orang lain karena lapar.

Praktis cerita tersebut membuat sebagian orang berkesimpulan bahwa yang menyebabkan mereka meminta-minta dan memeras adalah karena rasa lapar. Lalu apa benar demikian? Jika cerita di atas dibaca dengan seksama kita akan menemukan penyebab utamanya bukanlah soal kosong perut atau rasa lapar, tapi kosongnya takwa dari dada mereka. Sekiranya mereka bertakwa pasti tidak akan melakukan perbuatan bodoh itu, meskipun lapar.

Perhatikan ayat berikut ini yang memotret kehidupan orang miskin tapi bertakwa, “(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta”, (al-Baqarah: 273).

Poin dari ayat di atas adalah, ada beberapa sahabat Nabi kondisinya fakir, artinya lebih buruk dari miskin, tetapi tetap menjaga diri dari meminta-minta, malah menyembunyikan status kefakirannya, sehingga banyak orang mengira mereka itu orang kaya atau berkecukupan.

Mereka bersikap seperti itu bukan karena malu berstatus fakir atau miskin, tetapi bagi mereka miskin itu bukan masalah, tidak perlu dibesar-besarkan apalagi harus mengadu sana sini. Jika kaya adalah ujian dari Allah, maka miskin juga sama. Siapa yang mendapatkan kecukupan dalam hidupnya ia perlu bersyukur, sebaliknya bagi yang kekurangan mereka dituntut bersabar.

Dalam satu hadis Nabi bersabda, “Sungguh menakjubkan orang beriman itu, semua hal yang menimpanya selalu baik untuknya, ketika mereka diberi kelapangan mereka bersyukur, hal itu baik untuk mereka, dan apabila diuji dengan kesempitan hidup mereka bersabar, dan itu juga baik untuk mereka”, (HR: Muslim).

Ayat di atas bisa menjadi spirit bagi orang-orang yang selama ini merasa tak berkecukupan dan selalu kekurangan. Sahabat Nabi, dalam keadaan miskin sekalipun mereka tetap bisa menegakkan kepala, bersanding bahu dengan orang kaya, sama-sama berjihad di jalan Allah membela agama. Bandingkan dengan masyarakat miskin kita hari ini, petuah hidup yang mereka ingat dan selalu diulang-ulang adalah, “daripada ceumeucu got meugadee” (daripada mencuri lebih baik mengemis).

Pernahkah kita mendengar nama-nama semisal Ali bin Abi Thalib, Abu Zar Al-Ghifari, Mus’ab bin ‘Umair, Salman Al-Farisi dan Abu Hurairah? Semua mereka adalah kaum fakir dari sahabat Nabi, tetapi jangan tanya kontribusi mereka untuk agama dan umat ini. Sebut saja Abu Hurairah, buku hadis mana yang namanya tak tersebut di sana. Sahabat Nabi yang sangat miskin ini, dikenal dengan ahlu suffah, tinggal di beranda masjid Nabi karena tak ada rumah, tapi hari-harinya belajar dari Nabi meskipun tercekik rasa lapar dan perutnya terikat batu. Masuk Islam pada tahun 7 Hijriah, namun sejak itu tak satupun jihad yang ia lewatkan, bahkan tetap aktif berjihad setelah wafatnya Nabi SAW, ikut perang Riddah pada masa Abu Bakar dan perang Yarmuk di zaman Umar bin Khattab.

Kesimpulan kecilnya adalah, miskin itu pada hakikatnya bukanlah problem. Yang menjadikan miskin itu bermasalah adalah orangnya. Nabi dan keluarganya kadang-kudang juga hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, sehingga pernah dua purnama berturut-turut di rumahnya tak terlihat api dan asap, karena tak ada makanan yang bisa dimasak. Saat ditanya mereka konsumsi apa, Aisyah menjawab, “hanya air putih dan kurma kering”.

Artinya, jika orangnya baik, berakhlak dan bertakwa, status sosial apapun yang disangdang itu takkan masalah buatnya, juga tak akan mengganggu dan menyusahkan siapapun. Tetapi jika orangnya bermasalah, meskipun kaya raya, itu akan jadi bumerang buat dirinya dan petaka bagi orang lain. Kalau ada hadis yang menyebutkan bahwa fakir itu dekat dengan kekafiran, maka di sana ada banyak ayat al-Quran yang menceritakan jahatnya orang kaya.

Oleh karena demikian yang perlu menjadi fokus bersama bukan pada miskin harta saja, tetapi lebih penting dari itu bagaimana mengentaskan miskin moral dan ketakwaan. Degradasi moral bisa menggerogoti siapa saja, baik sikaya atau simiskin. Secara prioritas, ini yang harus lebih dulu diselamatkan.

Ibarat kata sang bijak, “tanpa makan dan minum, atau tanpa oksigen misalnya seseorang masih bisa hidup walau untuk beberapa saat, tetapi tanpa agama orang bisa bunuh diri saat itu juga”. Inilah yang dirisaukan oleh para Nabi menimpa keturunan mereka, sehingga Nabi Ibrahim berwasiat kepada anak-anaknya, “Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“, (al-Baqarah: 132).

Begitu juga Ya’qub, “ia bertanya kepada anak-anaknya: “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku nanti..?“, (al-Baqarah: 133). Mereka sama sekali tak merisaukan soal makan minum atau kemiskinan yang bakal menimpa anak-anak mereka. Wallahua’lam.

* Penulis adalah Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe.