AK Parti pimpinan Recep Tayyip Erdogan di Turki mengambil nilai Islam dan menerapkannya ke dalam pemerintahan dan pembangunan untuk rakyat. Secara tegas partai ini menyatakan diri sebagai partai dengan sistem yang demokratis dan menolak disebut partai islami.

Di Indonesia, juga di Aceh, ada partai menyebut dirinya partai islami tapi tidak menerapkan nilai Islam di dalam pemerintahan dan pembangunan untuk rakyat. Sama seperti partai yang tidak menyebut diri islami, tergelincir.

Perbedaan cara politik dan sikap partai di kedua negara ini membuahkan hasil yang berbeda.

Di Turki, negaranya maju, hutang lunas, rakyat bermartabat, Islam terhormat. Di Indonesia, pertumbuhan negaranya melambat, Islam dikotak-kotak, rakyatnya bingung.

Berdasarkan contoh dari negara paling sekuler di dunia, maka masalahnya pada sudut pandang para politisinya, bukan pada sistem negara sekuler atau bukan. Bukan pada menyebut islami atau bukan. Tapi pada pola pikir yang logis dan mempraktikkan nilai Islam.

Contoh di Turki, Kebijakan Erdogan telah melahirkan ribuan masjid dan sekolah baru, memudahkan pendidikan, membantu semua orang melarat sehingga semua sejahtra, melahirkan banyak industri, dan sebagainya. Tapi, itu semua tanpa menyebut pihaknya sebagai paling suci dan yang lain sebagai pendosa.

Contoh di sini, di Aceh, kita mencari pendosa, menghukum mereka, tapi tidak membangun apa-apa untuk memperbaiki mental rakyat.

Yang dibutuhkan adalah praktik Islam diterapkan pada sendiri diri politisi baru pada orang lain. Hal ini akan diteruskan ketika menjadi pemimpin, yakni menerapkan kebijakan yang diisi dengan nilai Islam yang adil untuk semua kelas masyarakat. Misalnya, hukum Islam bukan untuk mencambuk orang miskin yang mabuk, judi, dan sebagainya saja, seperti yang terjadi di Aceh sekarang.

Tapi juga, misalnya, hukum Islam yang diberlakukan oleh Pemerintah Aceh, juga untuk mencambuk koruptor selain diberlakukan hukum umum yang oleh negara. Juga harus adil, apabila yang salah rakyat kecil atau pejabat besar, harus sama hukumannya. Itu kalau bidang hukum. Yang belum ada di negeri kita.

Hal yang lebih penting, tentang kemaslahatan umat, misalnya ekonomi. Di Turki, fokus AK Parti –partai yang menyatakan diri demoktatis tapi menerapkan nilai islami—adalah pada membangun ekonomi umat, pendidikan, melesatarikan sejarah, tekonologi, pariwisata, dan sebagainya.

Di Aceh atau di Indonesia, belum diketahui akan kebijakan partai yang menyatakan diri islami untuk memperbaiki ekonomi umat. Adakah teknologi yang didukung dengan kebijakan, adakah dukungan terhadap pelestarian sejarah seperti di Turki?

Kekeliruan praktik politisi di Aceh dan Indonesia yang mengatakan dirinya dari partai islami saat menjadi penjabat telah memudarkan Islam dalam pandangan rakyat. Kalau tidak disebut partai islami seperti di Aceh dan Indonesia, tapi menerapkan nilai Islam seperti di Turki, maka Islam akan selamat.

Jika partai berhasil maka Islam bangkit seperti di Turki, tapi tidak akan ikut terimbas ketika partai itu gagal,seperti yang telah terjadi di Aceh dan Indonesia. Hal inilah yang mesti dipahami oleh orang kita, harus logis dalam berpolitik dan beragama.

Kekeliruan itu telah membalikkan keadaan, dari tujuannya ingin menguatkan Islam malah memburukkan citra Islam ketika pejabat dari partai yang disebut islami gagal membangun, apalagi ketika ditangkap karena korupsi.

Itulah yang memedakan umat Islam di Aceh dan Indonesia dengan umat Islam di Turki. Itulah yang membedakan AK Parti pimpinan Erdogan di Turki dengan partai yang menyebut diri islamis di Aceh dan Indonesia.

Kita mengagumi Erdogan, baru sebatas itu. Tapi tidak tahu apa-apa dan tidak melakukan apa-apa untuk menerapkan kebijakannya di Aceh atu di Indonesia. Jangan hanya bilang Erdogan hebat, Turki hebat, tapi lakukanlah apa yang telah mereka lakukan sehingga Turki bangkit kembali sejak Erdogan memimpin.[]