MUALEM memilih Teuku Abdul Khaliddikenal TA Khalidsebagai pendampingnya untuk bertarung pada pilkada Aceh 2017. Keputusan itu diumumkan Mualempanggilan untuk Muzakir Manafdalam konferensi pers di Markas Besar Partai Aceh (PA) di Banda Aceh, Rabu, 1 Juni 2016, malam.
(Baca: TA Khalid Didaulat Jadi Pendamping Mualem)
Sejumlah kalangan kepada portalsatu.com mengaku tidak merasa terkejut dengan keputusan Mualem. Sebab, sejak awal sudah diprediksi, pilihan Ketua Umum PA itu kemungkinan besar akan jatuh kepada TA Khalid. Maklum, TA Khalid dikenal sangat dekat dengan mantan Panglima GAM itu, baik di balik layar hingga alam terbuka.
Istilahnya, di mana ada Mualem, di situ ada TA Khalid, kata satu sumber, Kamis, 2 Juni 2016. Ada pula yang menamsilkan hubungan Mualem-TA Khalid selama ini lengket seperti perangko.
Prediksi sejumlah kalangan semakin menguat ketika dalam beberapa kesempatan di lokasi terpisah, Mualem memberi isyarat bakal menggandeng TA Khalid menuju pentas demokrasi Aceh 2017. Walaupun sempat muncul sejumlah namaselain TA Khaliddiusulkan kepada Mualem untuk menjadi pertimbangan memilih pasangan/bakal calon wakil gubernur (Cawagub) Aceh. Namun, seperti sudah diprediksi sejumlah kalangan, akhirnya terbukti soal pilihan Mualem tidak meleset: TA Khalid!
(Baca juga: Ini Alasan Mualem Pilih TA Khalid Jadi Cawagub)
Siapa TA Khalid?
Lahir di Meunasah Mee, sebuah gampong di Pidie Jaya, 25 Februari 1970, TA Khalid mulai dikenal di dunia politik sejak 2003. Saat itu, alumni Universitas Abulyatama ini memimpin Partai Bintang Reformasi (PBR) Lhokseumawe. Ia lantas terpilih sebagai anggota legislatif dan menjadi Ketua DPRK Lhokseumawe, 2004-2009.
TA Khalid yang juga memiliki latar belakang sebagai pengusaha, pernah menjadi Wakil Ketua Gapensi Lhokseumawe. Ia dikenal akrab dengan para ulama, dan sempat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe, 2002-2004. TA Khalid pernah pula menjadi salah satu calon wali kota Lhokseumawe, seusai ia menjabat ketua DPRK satu periode.
Setelah menjabat Ketua DPC PBR Lhokseumawe, 2003-2010, TA Khalid berkiprah di Banda Aceh. Pria berpostur tinggi yang disebut-sebut akrab dengan pendiri Partai Gerindra Prabowo Subianto ini lantas dipercayakan menjadi Ketua DPD Partai Gerindra Aceh sejak 2014. Sejak saat itu, TA Khalid semakin gencar membangun komunikasi politik dengan berbagai tokoh penting di Aceh, termasuk Mualem.
TA Khalid bekerja keras membesarkan Gerindra di Aceh. Hasilnya, dari (periode) sebelumnya tidak ada kursi (kader Gerindra) di DPRA, kini ada tiga kursi. Dari sebelumnya hanya lima kursi DPR Kabupaten/Kota di Aceh, sekarang sudah mencapai 39 kursi. Juga dua wakil Aceh di DPR RI saat ini dari Gerindra, kata Teuku Asmoni Alwi, kader Gerindra.
Apa kelebihan TA Khalid?
Terlepas dari kekurangan dimiliki manusia, salah seorang intelektual menilai kekuatan terbesar TA Khalid selama ini pada kesetiaannya. Dan itu tampak jelas dari pernyataan Mualem bahwa salah satu pertimbangannya memilih TA Khalid, karena sosok ini punya loyalitas yang tinggi, sehingga bisa digerakkan oleh Mualem, kata akademisi itu yang minta namanya tidak ditulis.
Kuatnya kesetiaan TA Khalid turut diakui Asmoni alias Moni. Selain pekerja keras, saya lihat beliau sosok pemimpin yang memegang komitmen, tegas, dan disiplin. Punya integritas, dan yang paling penting kalau kita berada dalam garis yang benar, geubela (dibela) habis-habisan. Artinya, beliau orang yang setia, kata Moni yang juga Ketua Partai Gerindra Aceh Utara.
Selain itu, menurut pandangan akademisi tadi, elite PA melalui Mualem memilih TA Khalid sebagai Cawagub lantaran menyadari pentingnya kekuatan politik lokal di Aceh memiliki hubungan yang baik dengan Pemerintah Pusat. Sebenarnya, kata dia, hal ini telah ditunjukkan oleh pemimpin Aceh masa silam yang berasal dari akademisi.
Gubernur Aceh Ibrahim Hasan, misalnya. Untuk membangun Aceh, beliau menyadari butuh support Pemerintah Pusat. Hal yang sama ditunjukkan Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud. Jadi, di samping gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah, beliau berupaya mendapatkan dukungan Pemerintah Pusat dalam membangun daerahnya, ujar peminat kajian politik itu.
Artinya, Mualem sebagai calon pemimpin Aceh di masa mendatang ingin menghadirkan proyek-proyek infrastruktur besar di Aceh. Ini seperti langkah (Presiden) Jokowi membangun Indonesia. Melalui proyek-proyek infrastruktur besar, sehingga dalam dua tahun sudah tampak, kata dia lagi.
Dia menilai sangat sulit bagi Pemerintah Aceh menghadirkan proyek infrastruktur besar jika tanpa dukungan Pemerintah Pusat. Itu sebabnya, kekuatan politik lokal harus bergandengan tangan dengan kekuatan nasional melalui partai politik nasional atau parnas, terlepas apakah itu Gerindra, Demokrat, dan lainnya.
Dipilihnya kader parnas sebagai Cawagub atau pendamping Mualem sebagai salah satu jangkar hubungan Aceh dengan Pusat. Tentunya, PA memilih orang yang mempunyai afiliasi dengan mereka. Yang jelas, dipilihnya kader parnas menunjukkan satu kesadaran baru di pucuk pimpinan PA, ujarnya.
Diakuinya keputusan Mualem tersebut tidak mudah diterima atau dipahami oleh para panglima muda dan panglima sagoe KPA/PA se-Aceh. Apalagi, kata dia, di tingkat bawah/pendukung yang melihat keputusan ini sebuah kesalahan strategi. Karena di tingkat bawah masih berpikir: pemenang (PA) memiliki semuanya dan merasa mampu segalanya, kata dia menamsilkan.
Itu sebabnya, menurut dia, tokoh-tokoh PA/KPA harus mampu menjelaskan kepada para panglima wilayah, panglima muda sampai panglima sagoe KPA/PA. Para panglima itu kemudian menjelaskan ke tingkat bawah melalui bahasa-bahasa dan contoh-contoh.
Kuncinya penjelasan. Mulai dari pengurus (PA) Pusat sampai panglima sagoe (tingkat kecamatan) harus bertindak sebagai pencerah. Karena selama ini, hal-hal yang tidak realistis saja mampu mereka yakinkan kepada pendukungnya, apalagi ini (keputusan memilih TA Khalid) merupakan langkah politik realistis yang diambil oleh Mualem, ujarnya.
Jadi, kata dia, butuh proses untuk menggerakan struktur PA/KPA guna mencerahkan tentang keputusan Mualem memilih TA Khalid. Jika dulu ada istilah di kalangan pendukung PA: nyekon ie leuhob, nye kon droe bandum gop, kini pola pikir itu mulai berubah. Artinya, harus dijelaskan bahwa politik itu bukan hitam putih.[] (idg)






