#TrenSosial: Apakah sejumlah serangan teror mendapat lebih banyak perhatian di internet dan media massa hanya karena itu terjadi di dunia barat?

Setiap ada serangan teror, jutaan orang berduka dan gelombang reaksi hebat mengalir di media sosial. Berita terbaru tentang pengeboman atau penembakan direspons dengan sejumlah tagar: nama kota yang diserang, gambar-gambar ikon terkenal kota itu, dan ungkapan “berduka untuk…”

Segera setelah itu, kadang ketika korban-korban terluka masih berada di jalan atau rumah sakit, munculah argumen politis yang emosional – seringnya tentang Islam, kebijakan luar negeri, migrasi, dan bahkan hal-hal tentang NATO dan Uni Eropa.

Satu tuduhan spesifik yang meningkat di media sosial adalah: serangan teror di luar Eropa barat dan Amerika utara secara rutin diabaikan oleh media sosial dan media massa tradisional.

Setelah serangan di Paris pada November 2015 misalnya, artikel BBC yang paling banyak dibaca adalah tentang serangan di Kenya yang terjadi pada tujuh bulan sebelumnya. Banyak orang, ternyata, membagikan berita itu untuk mengukuhkan opini mereka.

Kemudian, tuduhan tentang standar ganda juga menguak setelah serangan teror di Brussels. Satu media online mengangkat isu ini dengan judul seperti “Mengapa Brussels berarti dan Istanbul tidak” atau “Sejumlah serangan ini terjadi beberapa hari sebelum Brussels – tapi Anda mungkin tidak mendengarnya.”

Tapi apakah itu benar? Apakah orang-orang di jejaring sosial dan di media massa betul-betul “membisu” dan bahkan “diam” ketika bom membunuh orang di Turki atau Kenya?

“Anda adalah Paris, (tapi) Anda bukan Ankara dan Istanbul, dan sekarang, Anda adalah Brussels,” cuit satu pengguna Twitter.

Beberapa hari setelah serangan di Brussels terjadi, “Doa untuk Brussels” atau “Doa untuk Belgia” dikicaukan lebih dari 650.000 kali. Sementara terkait pengeboman Istanbul, jumlah kicauan “Doa untuk Turki” dan “Doa untuk Ankara” adalah sekitar 400.000 kali. (Jumlah ini termasuk frasa dalam bahasa Prancis dan Turki).

Nama Brussels dalam bahasa Inggris dan Prancis juga mencuat di Twitter dan digunakan lebih dari 6 juta kali setelah serangan. Setelah bom Istanbul, “Turki” dan “Istanbul” dikicaukan lebih dari 2,2 juta.

Ingat, bahwa ini adalah perkiraan kasar (karena ada juga banyak pesan yang memuat nama kota dan negara tanpa ada kaitannya dengan serangan teror). Tetapi dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan. Jumlahnya tidak sebanding – tetapi tidak juga berarti bahwa semua orang “diam” terkait kejadian di Turki.

Terlepas dari media sosial, bagaimanapun, ada masalah terkait pemberitaan media. Dan di sini tampaknya berbincangan menjadi menarik.

Karena meski ada banyak percakapan di media sosial, pencarian artikel berbahasa Inggris via Google mengindikasikan bahwa peliputan tentang serangan di Brussels jauh melebihi pemberitaan bom di Turki.

Perbedaan signifikan

Dari perhitungan kasar BBC Trending, “serangan Istanbul” digunakan kurang dari 100.000 laman dalam satu bulan terakhir dalam artikel yang diindeks oleh Google News. Sementara itu, “serangan Brussels” digunakan hampir 14 juta laman. Walau, jika kita membandingkannya dengan serangan bom dengan jumlah yang mirip ( yaitu pengeboman Ankara pada 13 Maret lalu), frasa “serangan Ankara” dipakai di sekitar 2 juta laman.

Mencari artikel berita dengan metode ini tentu bukan metode yang sempurna, tetapi tampaknya mengindikasikan bahwa para editor di media berbahasa Inggris, yang kebanyakan berada di Eropa dan Amerika Utara, memutuskan bahwa serangan di Brussels memiliki signifikansi lebih tinggi kepada pembaca dibanding pengeboman di Turki.

Ada banyak komentar tentang bagaimana media sosial mengubah dunia pemberitaan – dan kebanyakan memang betul. Facebook dan Twitter telah mengubah bisnis media dan kebiasaan orang menonton dan membaca berita. Jejaring sosial telah menunjukan cerita yang mungkin terlewat, dan membuat wartawan semakin responsif dan membuka diri terhadap sumber berita baru dan cara lain untuk melakukan investigasi.

Tetapi, organisasi berita masih dibentuk oleh editor dan pilihan yang mereka buat terkait berita besar mana yang harus didahulukan. Dan keputusan itu, tampaknya, tidak selalu beriringan dengan apa yang populer di media sosial.

Lihat tampilan asli artikel ini di: Trensosial_teror

[] Sumber: bbcindonesia.com