Banda Aceh – Pengalaman pahit bencana tsunami yang pernah melanda Aceh menjadi pijakan penting bagi Kota Banda Aceh dalam membangun konsep kota tangguh sekaligus memperkuat solidaritas antar daerah di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dalam Rapat Kerja Komisariat Wilayah (Raker Komwil I) APEKSI yang berlangsung di Anggun Ballroom Muraya Hotel, Senin (20/4/2026).
Dalam forum tersebut, Illiza menegaskan bahwa ketangguhan sebuah kota tidak dapat dibangun secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi, kepedulian, dan sinergi lintas daerah, terutama dalam menghadapi ancaman bencana dan perubahan iklim yang semakin nyata.
Menurutnya, perubahan iklim telah memunculkan tantangan baru berupa cuaca ekstrem dan meningkatnya potensi bencana yang menuntut kota-kota di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera, untuk lebih responsif, adaptif, dan saling terhubung dalam sistem penanganan bencana.
Illiza juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh terus menunjukkan komitmen nyata melalui aksi kemanusiaan dan bantuan bagi daerah-daerah yang terdampak banjir di Aceh maupun wilayah lain di Sumatera dalam beberapa waktu terakhir.
“Bantuan yang diberikan menjadi wujud nyata bahwa ketangguhan kota juga tercermin dari kepedulian terhadap wilayah terdampak yang sedang mengalami krisis,” ungkap Illiza.
Sementara itu, Ketua Komwil I APEKSI, Rico Tri Putra Bayu Waas, turut menekankan pentingnya sinergi antar kota dalam menghadapi tantangan global, termasuk krisis iklim dan bencana yang tidak mengenal batas administratif.
Ia mengajak seluruh pemerintah kota yang tergabung dalam Komwil I APEKSI untuk terus memperkuat semangat gotong royong dan solidaritas dalam membantu daerah terdampak bencana, baik di Aceh maupun wilayah lain di Sumatera.
“Sebagai bentuk nyata kolaborasi dan solidaritas antar daerah, ketika satu daerah terdampak, maka yang lain tidak boleh diam. Inilah semangat kebersamaan yang harus kita bangun,” ujarnya.
Raker Komwil I APEKSI ini tidak hanya menjadi forum koordinasi antar pemerintah kota, tetapi juga ruang konsolidasi untuk memperkuat peran daerah dalam menghadapi berbagai krisis di masa depan. Forum tersebut sekaligus menegaskan pentingnya aksi kolektif dalam penanganan bencana dan pembangunan kota yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Rico juga memberikan apresiasi kepada Kota Banda Aceh yang dinilai berhasil belajar dari pengalaman masa lalu dan kini aktif memimpin gerakan solidaritas serta kolaborasi antar daerah menuju masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. [adv]





