SUBULUSSALAM – Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Perjuangan Kota Subulussalam, Subangun Berutu mengatakan pergerakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir dipicu menyusul beberapa Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) baru di wilayah barat selatan (Barsela).
“Salah satu penyebab harga TBS kelapa sawit mengalami kenaikan harga dalam dua bulan terakhir karena munculnya pabrik baru,” kata Ketua Apkasindo Perjuangan Kota Subulussalam, Subangun Berutu kepada portalsatu.com/, Jumat, 3 September 2021.
Subangun menjelaskan, selama ini PMKS di Kota Subulussalam dan Aceh Singkil menerima pasokan TBS dari Abdya dan Aceh Selatan. Namun setelah PMKS PT Mon Jambe di Abdya beroperasi sejak dua bulan terakhir, hasil produksi TBS dari Aceh Selatan dan Abdya dibawa ke pabrik Mon Jambe.
“Akibatnya pasokan TBS untuk Subulussalam berkurang, karena selama ini ada penambahan pasokan dari Abdya dan Aceh Selatan,” ucap Subangun.
“Bahkan di pabrik-pabrik sekarang tinggal satu ship, biasa operasi pengolahan dua ship siang dan malam, sekarang tinggal siang saja,” tambah Subangun.
Selain faktor persaingan harga antar PMKS, penyebab kenaikan harga TBS disebabkan produksi buah sedang trek (menurun). Hal ini otomatis meningkatkan nilai tawar TBS kepada pabrik di tengah kondisi pasokan TBS mulai berkurang.
“Harga CPO normal tidak ada mengalami peningkatan. Namun harga TBS beberapa kali mengalami kenaikan, penyebabnya itu tadi, pasokan berkurang dari wilayah Barsela dan produksi buah sedang trek,” ungkap Subangun.
Subangun Berutu yang juga Wakil Ketua I Apkasindo Perjuangan Aceh ini menyebutkan, pergerakan harga TBS diperkirakan semakin meningkat karena persaingan harga antar pabrik. Apalagi dalam waktu dekan, PMKS PT Aceh Trumon Anugerah Kita, Aceh Selatan akan beroperasi.
Ia mengatakan saat ini harga TBS kelapa sawit di pabrik-pabrik atas Rp 2.000 per kilogram, harusnya tidak terjadi saat pasokan kurang dan produksi buah menurun. Tapi harusnya sudah berlaku dalam beberapa bulan terakhir mengingat pergerakan TBS stabil.
Menurut Subangun Berutu, jika merujuk harga CPO Rp 12.510 per kilogram, sejatinya pabrik-pabrik di Aceh Singkil dan Subulussalam, membeli TBS petani sekitar Rp 2.400 per kilogram. Sedangkan di level petani berkisar Rp 2.100 per kilogram.
Wakil Ketua Apkasindo Perjuangan ini juga minta pemerintah pusat melalui Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, melakukan pengawasan harga pupuk subsidi dan nonsubsidi. Kenaikan harga pupuk saat ini sangat memberatkan petani.[]





