BANDA ACEH – Pang Ulee Komandan Al Asyi Tuanku Warul Walidin Apresiasi Pameran karya pilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Karya Perupa Aceh dalam “Serambi Seni” yang diselenggarakan pada 25 September – 30 Sepember 2018 di Taman Budaya Banda Aceh.
“Seni Rupa adalah Simbol Peradaban, sehingga sebuah negeri tanpa seni rupa seperti negeri yang belum tersentuh peradaban, melalui seni rupa kita dapat mengilhami kejadian-kejadian masa lalu dan menjadi pelajaran bagi masa depan,” katanya pada Rabu, 26 September 2018.
Menurut Tuanku Warul kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh yang bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini patut diberikan apresiasi tinggi.
“Ada banyak seniman dan perupa di Aceh khususnya Banda Aceh hari ini sangat merindukan hadirnya pagelaran seni semacam ini, dimana kesempatan ini khususnya bagi para perupa ada banyak kesempatan bagi karyanya untuk ditampilkan dan dinikmati oleh khalayak ramai,” kata Tuanku Warul.
Dalam kunjungannya di pameran itu ia melihat masyarakat di Banda Aceh dari berbagai kalangan, mulai dari para penggiat seni, akademisi, mahasiswa dan masyarakat penikmat seni lainnya, tak terkecuali para aktivis seni dan budaya yang ada di Banda Aceh.
Dalam kegiatan ini tercatat ada 36 karya perupa, baik Nasional maupun Aceh. Koleksi karya perupa nasional antara lain, Karya maestro asal Aceh A.D. Pirous, Amang Rahman, Samsudin Hardjakusumah, Lian sahar, Ahmad Sadali dan Amri Yahya.
Para Perupa Aceh yang Ada tiga putra Aceh yang lukisannya dikoleksi oleh negara: Prof Ad Pirous, Lian Sahar dan Said Akram. Para kurator menyebutnya sebagai maestro. Sedangkan yang ikut memamerkan karyanya dalam Pameran ini antara lain : Ahmad Garli, Idrus Bin harun, Said Akram, Sayed Alwie Al Habsyie, Iswadi Basri, M. Arief wijya, Reins Asmara dan beberapa Perupa lainnya.
“Dengan jadwal pameran yang hampir mencapai sepekan ini, seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para penikmat seni rupa di Kota Banda Aceh sebagai ajang memuaskan dahaga menyaksikan karya para Maestro Nasional dan Aceh sendiri tanpa dipungut biaya sepeserpun,” kata Tuanku Warul. []



