BerandaNewsSaid Akram, Maestro Perupa Kaligrafi asal Aceh yang Mendunia

Said Akram, Maestro Perupa Kaligrafi asal Aceh yang Mendunia

Populer

BANDA ACEH – Perupa kaligrafi nasional asal Aceh Said Akram turut pamer lukisan kaligrafi di Pameran Karya Pilihan Koleksi Galeri Nasional, dan perupa Aceh Serambi Seni yang digelar di ruang lobi gedung Taman Budaya dari 25-30 September 2018.

Karya yang dipamerkan Said Akram di sana, sebuah lukisan kaligrafi bewarna hijau, berjudul karya 'Az Zukhruf 43', dengan Medium/Teknik oil on canvas, dengan ukuran 145 x 245 cm, dibuat tahun 2005.

Karyanya, umumnya memiliki karakter yang kuat, dikenal dengan style lukisan kaligrafi yang menonjolkan dan mengambil efek lelehan air dan akar yang membulat dan mengalir, berbeda dengan kaligrafi baku yang pernah ada sebelumnya.

“Saya menemukan tipologi, representasi konsepsional, karakter dan indentitas yang tepat sebagai pelukis. Akhirnya tampillah kaligrafi yang “cair”, yang berair, karena memang konsep air. Estetika kaligrafi yang dipilih menjadi totalitasnya dalam memahami seni sebagai jalan untuk mencipta dan memperindah. Menghadirkan ciptaan tuhan dengan campur tangan seniman menjadi lebih nikmat sekaligus spiritualis,” kata Said Akram, Rabu 26 September 2018.

Para Perupa Aceh yang Ada tiga putra Aceh yang lukisannya dikoleksi oleh negara: Prof Ad Pirous, Lian Sahar dan Said Akram. Para kurator menyebutnya sebagai maestro. Sedangkan yang ikut memamerkan  karyanya dalam Pameran ini antara lain : Ahmad Garli, Idrus Bin harun, Said Akram, Sayed Alwie Al Habsyie, Iswadi Basri, M. Arief wijya, Reins Asmara dan beberapa Perupa lainnya.

Namun di pameran itu Said Arkam bersama 35 lainnya di sana untuk setiap peserta hanya dapat pamerkan satu karya, disebabkan ruang pamer tidak mampu untuk menampung jumlah karya lebih dari jumlah itu.

“Sebetulnya di Kota Banda Aceh belum ada ruang serta gedung pameran yang layak untuk memamerkan karya seni rupa yang berkelas. Untuk pameran ini tim galeri nasional membawa langsung tim kerjanya dari Jakarta untuk menyulap ruang lobi dari gedung pertunjukan taman budaya supaya layak dipajang karya-karyanya yang dipamerkan,” katanya.

Said Akram mengatakan pemerintah Aceh dalam hal ini sekarang harus membuka mata selebar-lebarnya, melihat betapa penting mengalokasikan sedikit biaya dari trilyunan rupiah dari anggaran APBA memperuntukkan pembangunan sebuah gedung yang representatif untuk pameran benda-benda seni. 

“Sekali lagi dalam hal ini dari zaman kezaman kita ketinggalan dengan daerah-daerah lain, padahal Aceh sangat banyak benda dan karya seni bernilai tinggi,” ujarnya.

Said Akram adalah salah satu dari perupa kaligrafi nasional Indonesia yang tetap konsisten dalam kemegahan percaturan seni lukis kontemporer dewasa ini. Ia juga seorang kontributor penggayaan corak kaligrafi yang sangat personal serta telah memperkaya khasanah seni lukis kaligrafi Nasional maupun Internasional.

Bercerita tentang lukisan kaligrafi indonesia, Said Akram yang beralamat di Ulee Kareng, Banda Aceh itu menjelaskan bahwa awal mula ditetapkan lukisan kaligrafi sebagai mazhab baru dalam percaturan perkembangan seni lukis indonesia sejak tahun 1807, diawali oleh pelukis modern indonesia bernama Raden Sayid Bustaman itu pada tahun 1998, bertepatan dengan pameran besar di galeri nasional indonesia bertajuk MELINTAS GARIS WAKTU DAN PERISTIWA yang menampilkan karya dari 75 perupa indonesia sejak 1807 tersebut. 

“Saya bergabung dalam generasi kedua pelukis kaligrafi indonesia bersama beberap teman-teman baik dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan surabaya. Generasi pertama: Pirous, Ahmad Sadali dan Amang Rahman. Di antara karya dari kedua generasi ini disimpan dengan aman oleh galeri nasional sebagai koleksi tetap yang diabadikan oleh negara republik Indonesia,” katanya.

Setelah dimotori oleh dua generasi tersebut, lukisan kaligrafi Indonesia berkembang baik sekali. Salah satu indikatornya dapat dilihat dalam event MTQ ikut dimeriahkan dalam satu cabang lomba yang diberi nama cabang kaligrafi kontemporer.

MTQ nasional yang diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia lengkap dengan peserta dari cabang ini. Tentu seleksi tingkat nasional diawali dari peserta dari setiap kabupaten masing-masing dari masing-masing provinsi. Itulah buah dari dua generasi pelukis kaligrafi Indonesia yang telah menampak hasil bagi seni lukis berwajah islami di negeri ini. “Alhamdulillah,” katanya.

Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Seni dan Budaya Banda Aceh, D Kemalawati kepada portalsatu.com mengatakan Said Arkam adalah salah seorang pelukis Aceh yang karyanya sudah mendunia.

“Kita bersyukur Aceh memiliki pelukis yang mapan seperti Said Akram, sehingga ketika kita berdiri di depan karya beliau kita dapat menikmati semua unsur dari lukisan itu seperti karya yang kita saksikan pada pameran lukisan kali ini, yang setahu saya sangat konsen pada kaligrafi adalah Said Akram.”

“Juga dengan tidak mengurangi penghormatan saya kepada pelukis lainnya,  karya Said Akram menurut saya sudah melampaui tahap kemapanan,” katanya.[]

Diantara Pameran yang Pernah diikuti

  • Pameran Biennale IV Yogjakarta, di Yogjakarta (1994).
  • Pameran Wajah Seni Lukis Islami Indonesia, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (1995).
  • Pameran Melacak Garis Waktu Dan Peristiwa dari 75 Seni rupawan Indonesia Sejak Zaman Raden Saleh (1807), di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (1998).
  • Eksibisi pada Konferensi Dunia Islam Dunia Melayu Sedunia, di Hotel Equatorial, Malaka  Malaysia (2001).
  • Pameran Tunggal, di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2003).
  • Pameran Tunggal,di Reform Institut Jakarta (2005).
  • Pameran Tunggal, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2008).
  • Pameran Horizon of Light “Islamic Collection of the Indonesian Gallery” di Tlemcen-Aljazair (2011)… 
  • Dll

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya