Karya: Jamaluddin Sulaiman*

Pada segelas air minum itu telah kehilangan harum kopi 
terpantul armada asing datang bersama surat maklumat perang

Merusak lembaran kedamaian dengan senjata perang dan manusia budak kebesaran

Dengan sabar terus menghancurkan hingga sujud-sujud pada mereka berbaris menghalang arah kiblat

Mata air telah kering di Daruddunia
Hingga pohon peradaban Aceh terus tumbang

Jiwa-jiwa yang tangguh rubuh membumi
Berganti dengan generasi yang tumbuh kehilangan zawiyah

Berganti dengan cucu-cucu sultan yang terkadang dididik oleh guru yang mengajarkan yang keliru, pasukan pun berganti dengan pasukan yang telah kehilangan peta perang

Makam-makam endatu dibiarkan berlumut dijauhi tak diziarahi 
juga penduduk negeri dikenakan upeti

Mereka tak bisa menepati janji-janji 
tidak terlahir di sini

Pendidikan telah mereka ubah menjadi
ruang suci tuk melatih pengganti

Masyarakat kehilangan kata bijak ketika bersama mereka diupah
Kita adalah kecil ketika tanpa teman yang seiman

Zaman akan berubah bersama datangnya keinginan bangun dari mimpi menatap wajah diri di pantulan sejarah masa silam

Membangun masa depan.

11 Agustus 2020/027/Lohangen. []

*Penyair dari Teluk Samawi (Lhokseumawe).