Oleh: Taufik Sentana
Peminat Kajian Literasi Sosial-Budaya
Setahun yang lalu saya sempat membaca berita di media lokal tentang pemenang lomba membuat video pendek tingkat SMA. Pemenangnya tentu, pelajar Aceh. Dalam video berdurasi lima menit tersebut dikisahkan seorang anak yang ingin mengibarkan bendera tapi dilarang oleh ibunya, lalu ia berinisiatif mengibarkan bendera secara simbolik (seingat saya) dengan medium bendera plastik dan sebatang lidi. Potongan konflik ia dengan ibunya dan prosesi pengibaran bendera tadi menjadikan video tersebut layak menang.
Pada waktu yang lain, utama di masa konflik” tahun 2000-an jelang periode damai, ketika melewati beberapa daerah di Aceh, saya juga sering menyaksikan bendera merah putih yang tetap dibiarkan berkibar (entah karena kesal atau abai) di tiang-tiang sekitar halaman rumah, padahal bulan Agustus sudah jauh-jauh hari berlalu, bahkan ada yang benderanya sudah robek dan pudar (mungkin berkibar sepanjang tahun). Memang, saat itu sebulan sebelum bulan Agustus bendera sudah mulai dikibarkan.
Baru-baru ini, anak saya yang masih SD bertanya jelang berangkat ke sekolah, 'yah, kenapa kita belum pasang bendera? orang lain sudah pada pasang semua tuh?' dengan berseloroh saya menjawab,
'karena kita belum merdeka',
saya gak ingat lagi responnya, karena terjadi sepintas, entah dia puas dan mengerti atau memang sudah tahu jawaban yang sebenarnya. Padahal bila ia tanya balik,
“Kenapa kita belum merdeka?”
Minimal saya akan jawab
“Karena masih banyak yang miskin”
atau jawaban lain semacamnya.
(walau negara mungkin tidak mau dikatakan punya andil dalam memiskinkan” penduduknya): toh, fakta sejarahnya kita sudah merdeka. Jadi bila waktunya pasang bendera (istilah masyarakat umum) ya pasang saja.
Hanya saja, sampai hari ini saya belum juga pasang bendera, mungkin besok, karena bendera dan tiangnya sudah ada. Saya hanya perlu meluangkan waktu (ya, meluangkan waktu) untuk memasangnya sambil membayangkan betapa sulitnya dulu mengibarkan bendera ini.
Saya juga akan membayangkan betapa megahnya Indonesia, betapa kaya alamnya, betapa banyak pejabatnya yang peduli, betapa meratanya sistem ekonomi kita, dan saya juga membayangkan betapa mujarabnya Pancasila sebagai mercu suar keindonesiaan kita.
Itulah yang saya bayangkan, dan bayangan itu bisa membuat saya sedih atau marah, bisa pula membuat saya bersemangat dan bergembira.
Demikianlah tiga potong cerita tentang bendera yang berkibar dengan makna berbeda. Di sini kita bisa memberinya beberapa makna:
Makna yang pertama, kita mengibarkannya dengan penuh pengertian dan apresiasi yang mendalam. Kita pun hanyut sekilas dalam rentang kisahnya hinga bendera itu berkibar.
Makna kedua, kibarannya menjadi refleksi kekinian kita, upaya kita untuk memaknai kibarannya secara konkret dengan ragam metoda dan menjadi motivasi bagi pejabat publik dalam mengibarkan semangat melayani, berbagi dan memerdekakan.
Makna ketiga, yaitu makna ritus simbolik kenegaraan saja. Hanya itu. Hanya ritus. Saatnya mengibarkan bendera, ya, kita kibarkan. Kibarkan saja. Semuanya kita abaikan, sejarah, intelektualitas dan solidaritas kita senyapkan bersama angin yang bertiup. Dan ini bukanlah makna yang kita harapkan.
Makna ketiga ini adalah makna kepincangan sistemik kita, yang membutuhkan solidaritas bersama dalam mewujudkan makna merdeka. Atau mungkin kita belum tahu apa musuh kita sebenarnya? Sehingga solidaritas itu belum juga menjadi kekuatan kolektif?[]




