BANDA ACEH – Syamsuddin (61), akrab disapa Ayah Panton, terpilih sebagai Ketua Majelis Seniman Aceh (MaSA) pertama untuk periode 2018-2022 di Meuligoe Kande Banda Aceh, Jumat (9/2/18) sore.

Sekitar 20-an seniman sepakat memilih Ayah Panton yang sejak awal menggagas terbentuknya MaSA awal September 2017 lalu. Kepada ketua diberi mandat untuk membentuk susunan pengurus lengkap.

Selain memilih ketua, forum juga memilih anggota Akademi Kuta Raja yang tugasnya kedepan akan memilih calon ketua MaSA. Namun, untuk kepengurusan pertama forum memilih langsung ketua MaSA.

“Untuk pengurusan pertama ini kita serahkan pemilihan ketua MaSA kepada forum. Untuk periode selanjutnya akan dipilih oleh Akademi Kutaraja,” kata Baliar AW salah seorang anggota Akademi Kutaraja.

Rafli Kande sangat antusias dengan terbentuknya MaSA pertama. Senator Aceh yang selama ini berkiprah di Senayan, sangat prihatin melihat kondisi berkesenian selama ini. Rafly berharap MaSA mampu menjawab berbagai persoalan yang kini membelenggu seniman Aceh.

“Saya senang hari ini, MaSA terbentuk. Mudah-mudahan lembaga yang sudah lama dibahas di WA menjadi jembatan untuk memotivasi seniman dalam berkarya ke depan. Aceh kaya kaya dengan kebudayaan indatu dan sangat digemari didunia internasional,” kata Rafli.

Nab Bahany As menyatakan dengan terbuntuknya Majelis Seniman Aceh, selain telah mencoba merealisasikan apa yang diammanahkan dalam UUPA tentang pemberadayaan seni budaya Aceh juga seniman akan memiliki wadah yang bisa mengakomodasikan yang selama ini tersendat-sendat.

“Saya menyambut baik atas inisiatif dalam melahirkan Majelis Seniman ini,” kata Nab Bahany As. 

Sarjev sebagai penggiat Kebudayaan Aceh yang baru saja selesai PAI, memberikan pendapatnya.

“Bicara peradaban Aceh berarti bicara dunia, ketika orang bicara jimbe, mengingatkan orang kepada kesenian Afrika, demikian juga ketika orang bicara gerak berputar-putar, terngianglah kesenian tarian sufi Turky Usmania, ketika gerak kaki, hentakan tersebut mengingat kesenian Irlandia, nah ketika orang melihat gerak kepala mengangguk dengan barisan terpanjang, maka orang akan ingat kesenian Aceh, apakah bentuk Saman, Meuseukat, Rapai Geleng, namun apa yang terjadi dengan kepedulian di daerah Aceh sendiri kurang sekali perhatian terhadap kesenian yang berasal dari Pantai Barat/Timur juga kepulauan, buktinya saat ini kondisi tari seudati hampil punah, dibuktikan dengan kelangkaan syeh seudati sekelas Syeh Lah Geunta, sementara tari rapai pasee, tidak pernah menjadi tamu di tempatnya sendiri, gambaran ini menunjukkan betapa mirisnya kondisi kesenian, kita berharap segera didata ulang seluruh kesenian Aceh, sehingga bisa inklude dalam ekstrakurikuler pendidikan. Saatnya eksistensi kesenian daerah bangkit, dimulai pemberdayaan seniman itu sendiri, karena itulah kehadiran majelis ini sangat penting untuk segera bekerja,” ujar Sarjev yang berpengalaman menyelenggarakan International Voklor Festival turut dihadiri oleh 13 perwakilan kesenian dunia, serta terakhir terlibat dalam penyelenggaraan pentas PAI 2017.

Ketua MaSA Ayah Panton mengatakan terimakasih atas kepercayaan yang diberikan forum untuk memimpin MaSA pertama empat tahun mendatang.

“Terimakasih syehdara ka neupileh lon sebago petua bak organisasi MaSA kali pertamanyoe. Mudah-mudahan MaSA uke jeut berjalan sesuai dengan keinginan bersama,”kata Ayah Panton.[] (rel)