BANDA ACEH – Ketua Komisi I DPR Aceh, Azhari Cage, menyebut pengeroyokan yang menimpa dirinya sebagai pelecehan terhadap lembaga dewan. Lebih jauh lagi, kata Cage, telah melecehkan lambang negara. Pasalnya, DPR merupakan institusi negara. Menurut dia, melecehkan institusi negara berarti melecehkan lambang negara atau Pancasila.
“Marwah rakyat berada di DPR, tapi DPR sudah berani dilecehkan oleh aparat demikian, maka bagaimana lagi dengan rakyat? Itu akan lebih sadis lagi,” ucap Cage kepada portalsatu.com, Sabtu, 17 Agustus 2019.
Cage juga menyayangkan tindakan represif aparat saat meredam aksi mahasiswa sebelum insiden yang menimpa dirinya. Dia menilai tindakan itu tidak beradab dan terkesan barbar.
Kamis lalu mahasiswa menggelar aksi peringatan 14 tahun perdamaian Aceh dan menuntut realisasi perjanjian MoU Helsinki, di halaman Gedung DPR Aceh. Massa memaksa mengibarkan bendera bulan bintang di halaman kantor tersebut, tapi dicegah aparat.
“Mereka (mahasiswa) tidak melakukan anarki. Buktinya tidak ada bakar ban, pot bunga pecah. Tapi tiba-tiba direspons dengan pemukulan,” kata politikus Partai Aceh (PA) itu.
Cage yang mencoba melerai malah ikut dipukul. Video pemukulan itu tersebar luas di media sosial.
“Di kepala, muka, kerongkongan, rusuk, bahu,” kata Cage menyebut titik pukulan yang diterimanya.
YLBHI-LBH Banda Aceh mengecam tindakan polisi baik yang menimpa mahasiswa maupun Azhari Cage. Tindakan tersebut brutal menurut lembaga swadaya itu.
“Kita sayangkan pihak kepolisian yang semestinya menjadi pengayom dan pengaman aksi malah menjadi petaka bagi peserta aksi,” kata Direktur YLBHI-LBH Banda Aceh, Syahrul dalam rilisnya diterima portalsatu.com, Sabtu.
Azhari Cage telah melapor ke Polda Aceh pada Kamis lalu. Kabid Humas Polda Aceh, Kombes. Pol. Ery Apryono, membenarkannya.
“Kalau lapor sudah. Masih dalam penyelidikan,” kata Ery menjawab portalsatu.com.[]




