SUBULUSSALAM – Badan Akreditasi Dayah Aceh (BADA) melaksanakan sosialisasi instrumen akreditasi pendidikan dayah kepada puluhan pimpinan pondok pesantren (dayah) di Kota Subulussalam dan Aceh Singkil berlangsung di Pesantren Hidayatullah, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Sabtu, 28 Agustus 2021.
Sosialisasi itu disampaikan langsung Ketua BADA Tgk Haekal Afifa Asyarwani dihadiri Kepala Dinas Syari’at Islam dan Pendidikan Dayah (DSIPD) Kota Subulussalam, Drs. HM Yakob, KS., pimpinan pesantren Hidayatullah H.Qaharuddin Kombih, S. Ag., pimpinan pesantren Daarurrahmah Sepadan, Ustadz Rasyid dan puluhan pimpinan dayah Subulussalam-Aceh Singkil.
Ketua BADA Haekal mengatakan sosialisasi akreditasi dayah ini untuk menyampaikan kepada pimpinan dayah terkait mekanisme dan instrumen apa saja yang perlu dipersiapkan dalam mengajukan akreditasi.
“Lewat sosialisasi ini supaya pimpinan dayah tahu proses dan mekanisme penilaian sehingga nanti bisa mengusulkan akreditasi,” kata Haekal.
Ia menjelaskan sebelumnya proses akreditasi dayah dilakukan dinas menggunakan sistem survei dan kuesioner. Namun setelah BADA dibentuk berdasarkan amanah Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan pendidikan dayah, maka proses akreditasi berdasarkan program layak atau tidak, dan itu yang menentukan.
“Proses akreditasi sebelum Badan Akreditasi Dayah Aceh lahir, dinas melakukan survei dan kuesioner. Namun setelah adanya Badan Akreditasi Dayah Aceh proses akreditasi berdasarkan program layak atau tidak, di situ lah penentuannya,” ungkap Haekal.
Terkait standar akreditasi, Badan Akreditasi Dayah Aceh mengacu kepada undang-undang dan penyesuaian dari pola pemutakhiran data dayah yang sebelumnya dilakukan oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh ke pola standarisasi yang diatur oleh pemerintah.
Kepala DSIPD Kota Subulussalam, HM Yakob mengatakan perkembangan dayah di Bumi Syekh Hamzah Fansuri ini semakin pesat menyusul tingginya minat orang tua dan anak untuk menempuh pendidikan di dayah. Hal ini, kata Yakob dapat dilihat dari jumlah dayah di Kota Subulussalam pada tahun 2019 berjumlah 17 menjadi 27 dayah pada tahun 2021.
Namun, kata Yakob, ketika keluar data 10 besar dayah modern dan 10 besar dayah salafiyah di Aceh, belum terdapat perwakilan dayah berasal dari Kota Subulussalam. Ke depan, kata Yakob, ia berharap lewat proses akreditasi ini, dayah-dayah di Bumi Sada Kata ini bisa bersaing dengan dayah kab/kota lainnya di Aceh.[]








