Oleh Taufik Sentana*

Bila kata santai kita maknai sebagai pola mengabiskan waktu (killing the time) secara sia-sia dan tanpa arah, maka tentu ini bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Walaupun secara umum, agaknya makna ini sangat melekat di kalangan muda atau tua. Sehingga misalnya, banyak yang bisa mengabiskan waktunya berjam-jam hanya duduk di kafe atau warung kopi, tanpa ada penambahan nilai apa pun, selain kesenangan dan hiburan belaka.

Namun, bila kata santai kita maknai sebagai bentuk berlepas lelah dan melepas penat, maka hal ini masih lebih baik dari sekadar makna di atas. Walaupun dalam makna berlepas lelah ini tetap menuntut hal yang produktif setelah kegiatan santai tadi berlangsung. Hal produktif  itu di antaranya, menambah dorongan energi untuk beramal lebih baik, menambah pengetahuan dan meningkatkan hubungan sosial (utama antaranggota keluarga) agar lebih erat.

Dalam pengertian ini makna santai menjadi kegiatan transisi dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, atau dari satu kewajiban (yang mahdhah ataupun tidak) ke kewajiban yang lain. Jadi, bila sebagai kegiatan transisi, maka tentulah kegiatan itu tidak berlangsung lama sekali, apalagi sampai mengganggu kewajiban-kewajiban utama. Maka jarang sekali dalam tradisi sahabat dan kaum salaf aktivitas santai ini masuk ke dalam gaya hidup mereka, kecuali untuk hal-hal yang mendatangkan nilai lebih tinggi seperti tiga hal pada akhir paragraf di atas.

Bersantai tanpa menjadi lalai

Sebagai agama yang sesuai fitrah manusia, Islam sangat memberikan ruang yang sesuai dan berimbang dengan batasan tertentu sesuai syara'. Dalam arti bahwa Islam tidak mereduksi hak-hak personal untuk “sejenak istirahat dan menikmati hidup'. Namun, jangan sampai kegiatan bersantai menjadi pintu masuk dari beragam kelalaian dan kealpaan.

Dalam kaitan ini, banyak sekali kegiatan bersantai yang bisa mendatangkan nilai dan makna yang lebih tinggi. Sebagian mungkin butuh persiapan dana dan waktu khusus.

Kegiatan tersebut, di antaranya: Melakukan perjalanan, berwisata, tadabur alam, melakukan tafakur dan refleksi diri, menghidupkan kebiasaan baru di tengah keluarga, bersenda dan bertukar pikir dan pengalaman, silaturahim atau mempelajari keterampilan baru.

Demikianlah sekelumit catatan tentang bagaimana Islam memandu kita untuk berhati-hati dalam bersantai agar tidak terjerumus menjadi lalai yang berujung pada kerugian, baik rugi fisik, ekonomi atau bahkan spiritual.[]

*Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia Aceh Barat. Mengelola program pengembangan SDM untuk personal dan komunitas.