Oleh Taufik Sentana*

 

MEMBAYANGKAN anak di hadapan kita, sebenarnya sedang membayangkan kefitrian, kesucian yang Allah amanahkan. Inilah sifat utama yang ia bawa dan yang  dititipkan Allah dalam dirinya. Fitrii dalam makna bukan semata suci dan keislaman tetapi merangkum semua potensi baik yang semampunya bisa ia capai kemudian. 

Hadis Nabi yang mengisyaratkan “kedua orangtuanyalah yang membentuknya kemudian”, diindikasikan oleh ahli pendidikan sebagai faktor eksternal (lingkungan luar) yang memengaruhinya secara konstan. Bahkan, saat ia telah mandiripun, masih besar pengaruh rekaman mental yang ia terima kala kecil dalam perilaku dewasanya. Misalnya, saat ia berinteraksi dengan lawan jenisnya, bisa ditentukan dari seberapa baik pengalaman yang ia terima dari ayah-ibu dan lingkungan sekitarnya dulu. Penghargaan dia terhadap pekerjaan, ilmu dan seterusnya diwarnai oleh pengalaman yang ia terima sebelumnya. 

Yah.. walaupun ia dapat mengubah pengalaman pahit menjadi sesuatu yang mesti ia perbaiki,  tapi berat baginya mengondisikan kenyataan tersebut hingga membuatnya bahagia.

Pepatah menyebutkan, kesenangan anak terhadap masa kecilnya dan penerimaan akan dirinya dapat menjadi dasar yang sangat baik bagi kedewasaannya. Kalimat ini bukan menjadi penjamin, tetapi dapat membuka perspektif kita untuk memberikan ruang yang tepat bagi segenap potensinya,  termasuk bagaimana kita mengelola sifat fujurnya untuk lebur ke dalam karakter taqwa (fujuuraha wa taqwaahaa) dengan beragam pendekatan dan pembinaan.
inilah tugas besar kedua orang tua selaku madrasah utama dan lembaga pendidikan formal yang turut andil terhadap apa yang dialami” si anak hingga matang sebagai pribadi. 

Kealpaan kita akan hal ini, dan kecerobohan kita dalam menangkal dampak buruk lingkungan akan menagih biaya mahal bagi perbaikan masyarakat dan kemajuan bangsa di kemudian hari. 

Sesungguhnya,  apa yang dipetik masyarakat kita hari ini,  dari menjamurnya kasus korupsi dan prilaku menyimpang lainnya hanyalah buah dari yang ditanam dulu, buah dari apa yang pernah diterima anak saat ia kecil (inner child,  kata sebagian psikolog), ketidakpuasan dan kemarahan (sikap fujur/negatif) mereka yang mengendap di dalam bawah sadar yang terbawa dalam perkembangan pribadinya. 
Sehingga,  memelihara kefitrian si anak dan merawat kebahagiannya menjadi hal termahal yang tak boleh diabaikan. 

Marilah, dalam rangka semangat hari anak,  kita secara bersama memperbaiki pola interaksi kita terhadap anak dan menjadikan lingkungan di luar anak ikut serta dalam membantu munculnya sikap positif sekaligus menjadi pengontrol saat mereka berbuat salah. Misal, alangkah baik pemilik toko rokok tidak menjual rokoknya ke anak-anak, itulah contoh terkecil yang berdampak bagi perbaikan masyarakat kita ke depan.[]

*Guru dan peminat kajian sosial-budaya. Tergabung dalam Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Aceh Barat.