Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaOpiniBanda Aceh dan...

Banda Aceh dan Busung Lapar Sejarah

Oleh: Arya Purbaya
Pemerhati Sejarah.

(Serial Tergusurnya Kawasan Penting Peradaban Islam)

Pemerintah Indonesia cabang Banda Aceh (baca: Wali Kota Banda Aceh) sangat jelas tidak mengerti apa yang sudah dan sedang diperjuangkan masyarakat. Dengan tetap bersikerasnya melanjutkan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kompleks pemakaman kuno era Kesultanan Aceh Darussalam justru membuat masyarakat curiga apa yang sedang beliau perjuangkan?

Belakangan Pak Wali Kota sangat gencar kampanye dengan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan beberapa individu di berbagai tempat agar mendukungnya melanjutkan proyek yang bernilai ratusan milyar tersebut.

Terakhir beliau mengadakan FGD di Kafe untuk mencari dukungan lagi, agar seolah-olah proyek besar ini didukung penuh oleh masyarakat. Beberapa individu itulah yang menjadi tameng Pemerintah untuk melanjutkan proyek. Padahal kenyataannya hampir seluruh lapisan masyarakat Aceh menolak Pemerintah membangun IPAL di kompleks makam pendahulunya.

Wali Kota mengira persoalan Warisan Sejarah dapat selesai dengan mengundang orang bincang-bincang di stasiun radio atau di kafe-kafe. Justru kegiatannya belakangan ini adalah bukti bahwa beliau dan jajarannya sedang kebakaran janggut, terutama selepas masyarakat Gampong Pande dekat proyek IPAL berduyun-duyun membubuhkan tanda tangan pada surat yang isinya menolak pembangunan IPAL di kompleks makam indatu (leluhur).

Wali Kota yang jika kita terjemahkan secara harfiah bermakna “Pelindung Kota” malahan justru melakukan hal sebaliknya. Perusakan Kawasan Sejarah selalu saja menggunakan dalih pembangunan. Alasan untuk kemaslahatan masyarakat hanyalah omong kosong, karena ujung-ujungnya proyek semacam ini hanya mengutungkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Baca juga: