Sampai saat ini rekomendasi masyarakat Aceh yang masih bulat kepada Pemerintah Banda Aceh terutama kepada Walikota agar segera memindahkan proyek tersebut ke kawasan lain, bukan di kawasan tempat di mana denyut jantung kesejarahan Aceh hidup. Masyarakat mendukung pembangunan dengan tetap menjaga Kawasan Sejarah Islam, bukan menggusurnya.
Beberapa hari kemarin Banda Aceh telah dinobatkan sebagai Ibukota Kebudayaan Indonesia oleh Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), itu karena sejarah panjangnya sebagai Kota Islam yang penting. Penobatan itu atas dasar sejarah, bukan karena kebijakan Pemerintah yang cenderung ahistoris.
Seandainya penobatan itu didasari kinerja Pemerintah (seperti ingin membuang limbah di kompleks makam era Kesultanan) bukan karena sejarah agungnya, sudah barang tentu Banda Aceh tersungkur di lantai paling kumuh dalam Kebudayaan Indonesia.
Daerah Istimewa, Serambi Mekah, Daerah Syari’at Islam, Negeri Seribu Ulama, Pusat Peradaban Islam, Kota Maritim Islam, Ibukota Kebudayaan Indonesia serta segala gelar, julukan, predikat Aceh lainnya yang di sandang sekarang ini adalah karena sejarah panjangnya. Sejarah Bandar Islam yang masyhur.
Suatu tempat di mana toponiminya selalu disebut-sebut oleh berbagai bangsa di belahan dunia mulai dari timur sampai Barat. Tempat di mana para saudagar, ilmuan, dan mubaligh melabuhkan kapalnya di kanan-kiri muara Sungai Aceh untuk membangun peradaban maju. Peradaban Islam Banda[r] Aceh, tempat di mana proyek IPAL sedang dipaksakan.[]sumber:facebook.com/AryaPurbaya.Lampung



