BLANGPIDIE – Irigasi besar di Desa Krueng Panto, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), jebol diterjang banjir menyusul hujan deras di daerah itu, Kamis, 4 Oktober 2018.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya, Amiruddin, di Blangpidie, mengatakan, banjir setelah hujan deras mengguyur sejak pukul 13.30 hingga 18.00 WIB, juga mengakibatkan sebuah jembatan permanen patah.

Jembatan menghubungkan Desa Rumoh Panjang dengan Desa Ie Mameh, Kecamatan Kuala Batee, itu tidak bisa dilalui lagi kendaraan roda dua dan empat. Pasalnya, badan jembatan yang panjangnya sekitar 25 meter tersebut sudah amblas ke sungai.

Selain jembatan, kata Amiruddin, banjir juga mengikis tebing Krueng (Sunai) Tangan-Tangan hingga menggenangi pemukiman penduduk. Sejumlah rumah masyarakat yang berdekatan dengan aliran sungai tersebut terancam hanyut termasuk kuburan umum.

“Lokasi kuburan umum, dan sejumlah rumah warga Desa Bineh Krueng, Kecamatan Tangan-Tangan, terancam dibawa banjir. Karena aliran air sungai itu semakin meluas. Apalagi tebingnya sudah lebar dikikis banjir. Termasuk tebing Krueng Panto, Kuala Batee,” ujarnya

Berikutnya, kata dia, jembatan Pulau Kayu yang panjangnya sekitar 60 meter di atas bantaran Krueng Susoh yang menghubungkan jalan nasional antara Nagan Raya dengan kota Blangpidie, juga terancam amblas.

Abutment jembatan Pulau Kayu tersebut mulai dihantam banjir. Menurut Amiruddin, bila tidak segera ditangani dengan cara pemasangan batu gajah (batu besar), maka diprediksikan jembatan tersebut akan ambruk ke sungai jika terjadi banjir susulan.

Banjir melanda Abdya juga menyebabkan ratusan hektare tanaman padi terendam banjir. Tidak sedikit pula tanaman petani di sawah tertimbun kerikil sungai.

Banjir juga menggenangi rumah masyarakat. Ratusan rumah penduduk di Kecamatan Lembah Sabil, Manggeng, Tangan-Tangan, Setia, Kuala Batee, Babahrot, tengah malam tadi sedang dibersihkan dari lumpur.

“Banjir yang paling parah di Dusun Alu Diwi, Kuala Batee. Ratusan rumah warga di daerah itu digenangi air dengan ketinggian rata-rata satu meter lebih. Tempat tidur, dan peralatan rumah tangga mereka basah,” ujar Amiruddin.

Amiruddin mengaku belum bisa memprediksi jumlah kerugian dialami masyarakat Abdya terkait peristiwa banjir tersebut. Karena petugas penanggulangan bencana masih melakukan pendataan di lapangan.

“(Sejauh ini) tidak ada warga yang mengungsi, karena hujan sudah berhenti, banjir cepat surut. Walaupun begitu kita dari BPBK tetap siaga untuk memantau kawasan rawan banjir tersebut,” ujarnya.[](Suprian)