LAMPUNG – Bank Indonesia mengadakan Training of Trainer (ToT) Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk konten kreator dan jurnalis wilayah Sumatra, di Swiss-Belhotel, Bandar Lampung, Ibu Kota Provinsi Lampung, Jumat-Sabtu, 20-21 Juni 2025.

ToT itu rangkaian event Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatra Tahun 2025, yang digelar di Lampung City Mall pada 21-25 Juni 2025.

ToT tersebut dibuka secara resmi oleh Direktur Industri Produk Halal KDEKS Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Prof. Dr. Ruslan Abdul Ghofur Noor, S.Ag., M.Si., dihadiri Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lampung, Achmad P. Subarkah, Kepala KPw Bank Indonesia Lhokseumawe, Prabu Dewanto, Kepala Unit Unit Pelaksana Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif dan Ekonomi Keuangan Syariah (UPPUKIS) BI Lhokseumawe, Riemas Anugrah Maulana.

ToT tersebut diikuti sebanyak 50 peserta terdiri dari jurnalis dan konten kreator (influencer media sosial) berasal dari Aceh hingga Lampung.

Pada sisi pertama dan kedua ToT itu tampil sebagai pemateri Irfan Farullan dari Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia memaparkan tentang ‘Dasar Ekonomi dan Keuangan Syariah’, dan Kepala Tim Implementasi KEKDA Bank Indonesia Lampung, Listyowati Puji Lestari, membahas ‘Peran Bank Indonesia dalam Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah’.

Direktur Industri Produk Halal KDEKS Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Ruslan Abdul Ghofur Noor, menyampaikan kegiatan ini sangat penting dilaksanakan untuk mengedukasi masyarakat secara komprehensif berkenaan perkembangan keuangan syariah di Indonesia. Edukasi ini kemudian lebih mudah dicerna oleh masyarakat melalui peran jurnalis maupun influencer yang dapat memberikan informasi mendalam mengenai ekonomi dan keuangan syariah.

“Tujuannya adalah agar pemahaman di tengah masyarakat bisa terbangun dengan baik tentang ekonomi keuangan syariah. Karena ada sebagian masyarakat kita masing menganggap sistem keuangan syariah itu penerapannya dilakukan secara ketat, dan dianggap mungkin sesuatu hal yang menakutkan. Tapi pada dasarnya tidak demikian, yang disebutkan syariah itu merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sehingga anggapan-anggapan itulah menjadi terpinggirkan soal pemahaman ekonomi syariah di perbankan,” kata Ruslan.

Menurut Ruslan, memahami nilai dan prinsip syariah menjadi bagian dasar yang penting untuk dapat mengikuti sistem tersebut. Oleh karena itu, literasi keuangan syariah penting ditingkatkan bagi semua kalangan.

“Maka Bank Indonesia juga perlu memberikan training ini kepada para jurnalis dan influencer, supaya dapat menyampaikan informasi yang mudah dipahami. Karena kita melihat tingkat literasi ekonomi syariah nasional masih terbilang rendah. Influencer bersama jurnalis memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan ekonomi syariah menggunakan bahasa yang menarik, kontekstual, dan mudah dipahami masyarakat luas,” ungkap Ruslan.

Sementara itu, Irfan Farullan menjelaskan sistem ekonomi syariah mengutamakan kemaslahatan umat dibanding keuntungan. “Ini Ilmu yang mempelajari tata kehidupan masyarakat dalam melakukan ekonomi berdasarkan hukum dan prinsip syariat Islam”.

Irfan menyebut ekonomi syariah telah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru global. Indonesia adalah visi menjadi pusat industri halal dunia. Indonesia saat ini berada peringkat 3 berdasarkan Sharia Global Islamic Economy Index (SGIEI) 2023/2024, dan ditargetkan menjadi peringkat 1 pada 2029 (RPJMN 2024-2029).

Bahkan, ekonomi syariah ini sudah dikembangkan oleh negara-negara lain seperti Tiongkok melakukan ekspor baju-baju muslim tertinggi ke Timur Tengah. Korea juga menjadi destinasi utama pariwisata halal. Brazil adalah pemasok daging unggas halal terbesar ke Timur Tengah. Malaysia menjadi pusat industri halal dan keuangan syariah global. Beberapa negara lain juga telah menerapkan sistem ekonomi syariah.

“Sistem ini menjadi daya tarik tersendiri untuk mengembangkan perputaran perekonomian di negaranya. Mengapa di luar negeri seperti Korea melakukan pariwisata halal, itu salah satu strategi untuk menarik wisatawan bisa berkunjung ke negaranya,” ungkapnya.

Artinya, lanjut Irfan, umat muslim akan lebih nyaman jika berkunjung dan di setiap lokasi wisata sudah disediakan fasilitas yang ramah lingkungan bagi muslim. Misalnya, mereka membangun musala di destinasi pariwisata halal, menyediakan makanan halal dan sebagainya.

“Intinya, ekonomi syariah itu bukan untuk membatasi dari segi sistemnya, tetapi lebih kepada memperluas ruang lingkupnya dalam mengembangkan perekonomian,” ucap Irfan Farullan.[]