HALAMANNYA dihiasi kerikil berwarna abu-abu. Rerumputannya dipotong rapi. Di sisi pagar batu sebelah barat, berbariskan tanaman cabai di dalam polybag hitam.

Di sebelah timur halaman, di dataran lebih rendah, ada sebuah penaung teduh, tempat bersantai damai. Ada empat buah kursi panjang berwarna warni, warna khas Aceh. Kursi-kursi tersebut mengelilingi sebuah meja persegi panjang berwarna coklat. Atapnya terbuat dari plastik rajut yang biasa digunakan sebagai baliho, berbalut jaring hitam.

Saban hari dan malam, ke sinilah para seniman datang, berkumpul, bercengkrama, bermusyawarah. Kami membicarakan berbagai hal tentang seni dan kebudayaan Aceh. Tempat ini telah menjadi Dewan Perwakilan Rakyat para seniman.

Sesekali, para politisi juga datang ke sini, tetapi mereka membicarakan seni. Jurnalis juga datang ke sini, tetapi tetap membicarakan seni. Tempat ini berada di Dusun Rukun, Pango Deah, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Pemiliknya adalah produser terbesar di Aceh, yang khusus menerbitkan lagu-lagu etnik Aceh. Dialah Syekh Ghazali LKB, Direktur Kasga Record. Rafli, Liza Aulia, adalah dua orang penyanyi hasil bentukan Kasga Record.

Tidak ada siapapun yang merencanakan ini sebagai tempat berkumpul para seniman. Awalnya ini hanya dibuat sebagai balai-balai kecil. Namun kemudian, karena Syekh Ghazali LKB adalah orang yang ramah dan banyak teman, maka ramailah di sini.

Orang-orang datang silih berganti. Ada yang membawa kopi, ikan hasil hasil pukat atau kail, daging kambing, dan sebagainya.

Aroma kopi sering mengepul di sini. Lebih sering lagi bau tahi lembu. Ada kandang lembu di seberang jalan di seberang selatan halaman, di dekat aliran Sungai Krueng Aceh.

Memang, yang datang ke sini lebih banyak seniman yang berusia di atas tiga puluhan tahun. Namun, seniman muda juga ada. Mereka baru menggeluti dunia tarik suara atau pengisi gambar video klip. Sementara yang di atas tiga puluh tahun, telah menjadi pencipta.

Di antara para seniman, yang lebih banyak datang ke sini adalah para musisi, penyanyi, produser lagu, pengarang lagu, sineas, dan sejenisnya. Itu terjadi karena Syekh Ghazali ada produser lagu.

Penulis novel yang datang ke sini barulah aku. Bukankah penulis novel di Aceh dapat dihitung dengan jemari tangan? Itu pun bukan karena novel, tetapi karena aku juga penulis lirik lagu dan pembuat film.

Membagikan Buah Pikir

Seniman yang datang ke sini adalah yang senantiasa menghasilkan karya. Di sini adalah tempat membagikan buah-buah pikir sehingga hasil karya lebih sempurna.

Para cendikiawan seperti seniman memang sudah seharusnya senantiasa berkumpul, membagikan hasil pemikiran sehingga karya yang lahir lebih baik. Kita perlu menghindari, lebih tepatnya, kita mesti menghentikan kejumudan, kebekuan.

Setahuku, satu lagi tempat berkumpul para seniman adalah kedai kopi Taman Budaya. Walaupun sama-sama seniman dan orang yang sama, berkumpul di Taman Budaya dengan di Basecamp Kasga berbeda.

Di Taman Budaya, isi pembicaraan lebih banyak tentang rencana pemajuan seni yang terhubung dengan pemerintah, sesekali tentang politik.

Sementara di Basecamp Kasga, pembicaraannya lebih banyak tentang buah pikir dan karya. Terikat seperti saudara. Seakan-akan, ini adalah rumah kami sendiri. Tempat berkumpul, berkeluh-kesah, membagi suka duka, membagikan kerangka karya.

Di sini, kami membicarakan tentang lirik lagu, skenario film, video klip lagu, arransmen musik, vocal penyanyi. Banyak hal lainnya, seperti, mengapa sebuah karya diterima oleh masyarakat dan yang lainnya tidak.

Di Basecamp Kasga, kami terlalu sibuk menghasilkan karya, tidak sempat lagi memikirkan hal lain. Kami mengharapkan karya-karya kami diterima, walaupun kami menyadari bahwasanya kami masih memiliki banyak kekurangan.[]

Penulis: Thayeb Loh Angen, pengarang, novelis.