LHOKSUKON “Tiba-tiba meudenge sue, Ngungggg… ube raya. Loen pike sue motoo beko. Watee nyan hana ujeun, tapi angen get that teuga. Aleuh reubah rumoh, baroe na ujeun (Tiba-tiba terdengar suara, Ngungggg… sangat besar. Saya pikir suara excavator/beko. Waktu itu tidak ada hujan, tapi angin sangat kencang. Setelah rumah roboh, barulah hujan.”

Hal itu dikisahkan Basyariah, 65 tahun, warga Dusun Cot Raboe, Gampong Matang Sijuek Timu, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara, saat ditemui portalsatu.com/, Minggu pagi, 26 November 2017. Basyariah dan suaminya, Basyari Hasan, 70 tahun, merupakan salah satu korban yang rumahnya roboh akibat diterjang angin puting beliung, Sabtu, 26 November sekitar pukul 13.00 WIB.

Saat kejadian, Basyariah berada di dalam rumah hendak salat zuhur. Sementara suaminya duduk di bale-bale yang ada di depan rumah. Ketika atap beterbangan, lengan Basyariah sempat terluka karena terkena sayatan seng, demikian juga betisnya.

“Watee nyan loen neuk sembahyang di dalam rumoh. Loen khen bak Abu, bek neuduk lee uroe ka poh sa, aleuh nyan loen tamong jak tung ie sembahyang. Aleuh reubah rumoh, sue reudok ‘krum’ sige ube raya. Aleuh nyan hana le angen, tinggai ujen sagai (Waktu itu saya hendak salat di dalam rumah. Saya bilang ke Abu (suami), jangan duduk lagi hari sudah pukul 13.00 WIB, setelah itu saya masuk untuk wudhu. Setelah rumah roboh, terdengar suara geledek ‘krum’ sekali sangat besar. Setelah itu tidak ada lagi angin, tinggal hujan saja,” ujar Basyariah.

Sebelum kejadian, kata Basyariah, suaminya sempat mengajak ke kedai setelah salat. Namun kala itu, Basyariah menjawab, “Halah, hana meupu sibuk, salang leu’iek ka jijak ba lom motoe beko. Loen pike su moto beko, padahai sue angen. Aleuh nyan loen bun pinggang, ka loen sok telekong neuk sembahyang (Halah, entah apa sibuk, ini sedang becek pun dibawa lagi beko. Saya pikir suara beko, padahal suara angin. Setelah itu saya betulkan kain dan saya pakai mukena hendak salat),” terang Basyariah.

Ketika hendak salat, tiba-tiba datang kakak Basyariah. Seraya menangis, wanita paruh baya itu mengajak Basyariah keluar sambil berkata, “Katubit, katubit, angen (keluar, keluar, angin).”

“Watee kamoe ka diluwa rumoh, tiba-tiba na su seng, cringggg. Loen bet jaroe loen then, tingat loen sit nyak bek keuneng takue. Watee loen eu darah jitubit get that jai bak sapai, hana nyum saket, cuma mumang. Bak beuteh pih na keuneng. (Ketika kami sudah berada di luar rumah, tiba-tiba terdengar suara seng, cringggg. Saya reflek angkat tangan untuk menahan, seingat saya agar tidak kena leher. Saya lihat darah keluar sangat banyak di lengan, tidak ada rasa sakit, hanya pusing. Di betis juga ada kena,” ungkap Basyariah seraya melihat ke arah puing-puing rumahnya.

Kata Basyariah, seng yang beterbangan itu bukanlah seng milik rumahnya, melainkan seng atap rumah tetangga yang diterbangkan ke rumahnya. Sedangkan atau seng rumahnya diterbangkan ke dekat rumah keponakannya, yang berada tidak jauh dari lokasi.

Basyariah menyebutkan, ia memiliki lima anak laki-laki, empat di antaranya sudah menikah, sedangkan yang bungsu bekerja di Banda Aceh. “Kamoe di rumoh dua sagai ngen Abu. Watee loen eu rumoh diba le angen, sang-sang karap pangsan. Okuu.. hana le rumoh loen (Kami di rumah berdua saja dengan Abu. Ketika saya melihat rumah dibawa angin, seakan-akan hendak pingsan. Aduhhhh, tidak ada lagi rumah saya),” lanjut Basyariah, didampingi kakaknya.

Semalam, Sabtu, Basyariah mengaku telah menerima sejumlah bantuan berupa mukena, kain, baju, mie instan, dan baju kaos untuk cucu. “Breuh galom meurumpok. Loen pajoh bu jiintat le aneuk ngen kak. Beuklam loen eh di rumoh ngen aneuk agam, Abu geu’eh bak rumoh Polindes (Beras belum dapat. Saya makan nasi diantar anak dan kakak. Semalam saya tidur di rumah dengan anak, Abu tidur di Polindes),” Basyariah menjelaskan.

Ahmad Yani, 27 tahun, anak bungsu Basyariah mengatakan, dirinya semalam tiba dari Banda Aceh, setelah mendengar kabar musibah tersebut dari abangnya. “Saya semalam tiba. Saya tidak tinggal di sini karena bekerja di Banda Aceh, di tempat pembuatan perabot,” katanya.

Basyariah berharap, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dapat membantu memberikan rumah bantuan untuk keluarganya, mengingat mereka kini tidak ada lagi tempat tinggal.

“Rayeuk harapan loen, na rumoh bantuan keu kamoe, sabab hana pat tinggai le. Adak hana nyang rayeuk, nyang ubeut pih jeut, asai let dua ngen Abu. Menye tabangun keudroe pane na peng. Keu pajoh lawet nyoe jak u blang, ata gob, kamoe tren, watee na hasee bayeu sewa (Besar harapan saya, ada rumah bantuan, karena sudah tidak ada lagi tempat tinggal. Jika tidak ada yang besar, yang kecil juga boleh, asalkan muat berdua dengan Abu. Jika membangun lagi sendiri tidak punya uang. Untuk makan selama ini pergi ke sawah, punya orang, kami turun, jika panen bayar sewa),” pungkas Basyariah.

Amatan portalsatu.com/ di lokasi, dari sisa lantai semen yang terlihat, rumah Basyariah berukuran sekitar 6×10 meter. Bagian depan berdinding papan lapuk, sedangkan bagian dapur berdinding tepas. Itu terlihat dari puing-puing sisa rumah yang roboh. Di bagian depan, Basyariah membuat tenda kecil berwarna biru yang ia gunakan untuk tidur bersama anaknya, semalam.

Seluruh isi rumah Basyariah berserakan. Hingga pukul 10.00 WIB tadi, listrik di lokasi masih padam. Beberapa titik kabel listrik putus, termasuk di jalan masuk menuju Dusun Cot Raboe. Sejumlah pohon kelapa yang tumbang di lokasi sudah dipoton, agar lorong atau jalan menuju rumah warga bisa dilintasi.[]