LHOKSEUMAWE – Pihak Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Kota Lhokseumawe menanggapi informasi beredar di tengah masyarakat terkait tudingan malapraktik yang mengakibatkan bayi meninggal dunia di RSU itu, Sabtu, 9 Agustus 2025.

Tudingan itu muncul lantaran sang bayi meninggal dunia usai ibunya, NA, menjalani operasi melahirkan yang ditangani dokter RSU Bunda, Sabtu, 9 Agustus 2025. Operasi terhadap NA, warga Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe itu ditangani dr. Teuku Yudhi Iqbal Sp.OG., dari Klinik Spesialis Obgyn RSU Bunda.

Dokter Yudhi Iqbal membantah terjadi malapraktik terhadap ibu yang melahirkan bayi itu. Sebelumnya, kata dia, pasien NA dirujuk ke RSU Bunda dengan keluhan kondisinya sungsang, dan ketubannya sudah pecah sesuai laporan dari bidannya.

“Sesampainya di sini (RSU Bunda) diperiksa, dan ternyata detak jantung bayi kurang jelas. Jadi, kami luruskan bahwa ini harus operasi emergency, letak sungsang dan indikasi harus operasi. Maka kami minta persetujuan dari ayahnya bayi (Su), setelah itu baru kita mempersiapkan untuk melakukan operasi,” kata Yudhi Iqbal saat konferensi pers di RSU Bunda Lhokseumawe, Ahad, 10 Agustus 2025.

Yudhi menyebut proses operasi berjalan baik. Namun, setelah operasi dia melihat bayi tersebut ada masalah. “Karena tidak ada suara bayi menangis. Tapi, saya tidak memberi tahu ibunya dulu lantaran sedang dioperasi, ini untuk menjaga psikologis ibu dan dikhawatirkan histeris,” ujarnya.

Kemudian, kata Yudhi, dirinya langsung menemui ayah bayi itu, Su, yang berada di ruang tunggu. Dia menyampaikan bayinya dalam kondisi meninggal dunia. “Perlu diketahui bahwa permasalahan ini ada kelainan, dan isi organ perutnya (bayi) itu berada di luar. Penyebabnya itu bermacam-macam, bisa jadi karena genetiknya, dan ada juga faktor lain seperti nutrisi maupun obat-obatan”.

“Ketika itu saya sampaikan kepada ayahnya bayi tersebut, nanti akan diperlihatkan anaknya itu oleh petugas medis,” tutur Yudhi didampingi Su, ayah bayi itu.

Menurut Yudhi, operasi itu tentu ada risikonya. “Bentuk risikonya beragam, ada juga pasien pendarahan dan sebagainya. Kecuali ada kain kasa atau alat lain yang tertinggal di dalam perut setelah operasi atau persalinan, itu baru bisa dikatakan malapraktik,” ucapnya.

“Jadi, saya curiga bayinya meninggal dalam kandungan, karena pada saat keluar sudah tidak lagi bernyawa. Makanya saya langsung memanggil ayahnya. Faktor bayi kondisi seperti itu bisa terjadi karena genetik, dan organ dalam bayi tersebut penyatunya tidak sempurna,” tambah Yudhi.

Adapun Su dalam konferensi pers itu menyampaikan tidak membuat laporan penuntutan terkait operasi istrinya. “Peristiwa ini mungkin takdir Yang Maha Kuasa. Apa yang terjadi kemarin (Sabtu, 9/8), saya tidak menyalahkan pihak rumah sakit, dan tidak memperpanjang lagi permasalahan tersebut”.

“Awalnya memang dokter juga ada menjelaskan kepada kami berkenaan kondisi bayi seperti apa, bahwa anak saya ini mengalami kelainan, pihak medis pun sudah berusaha sebaik mungkin dalam proses operasi,” kata Su.

Su menjelaskan sebelum dilakukan operasi semuanya sudah dicek. Namun, ketika sudah dioperasi ternyata bayinya ada kelainan. “Intinya, kami tidak mempermasalahkan lagi, kami pihak keluarga sudah ikhlas, dan ini mungkin takdir Allah SWT,” ucapnya.[]